Sosiologi-Antropologi pembangunan di Afrika ; teori struktural fungsional dalam perkembangan perekonomian Afrika

Sosiologi-Antropologi Pembangunan di Afrika

 

NAMA : Abdulloh Farid

NIM       : 0705646

 

Modernisasi merupakan suatu konsep yang menggambarkan perubahan tatanan sosial yang dulunya telah mapan. Entah revolusi dalam hal pemikiran, kebudayaan, ilmu pengetahuan, atau bahkan teknologi. Istilah ini mulai menjadi mode setelah Perang Dunia II, seperti yang dikatakan Sosiolog dari Jerman ;

Modernisasi merupakan satu istilah yang menjadi mode setelah perang dunia II. Meskipun pengertiannya samar-samar, istilah kita bermanfaat oleh karena ia cenderung untuk membangkitkan asosiasi-asosiasi pikiran yang serupa pada pembaca-pembaca di zaman ini. Mungkin yang pertama terbayang dalam pikiran adalah apa-apa yang berkaitan dengan teknologi zaman sekarang, dengan perjalanan jet-nya, penjelajah antariksanya, dan tenaga nuklirnya. Akan tetapi, menurut pengertiannya secara umum, perkataan ‘modern’ mencakup seluruh era sejak abad ke-18, ketika penemuan-penemuan seperti mesin uap dan mesin pemintal meletakan landasan teknik yang pertama bagi industrialisasi berbagai masyarakat. Transformasi ekonomi di Inggris bersamaan waktunya dengan gerakan kemerdekaan di jajahan-jajahan Amerika dan dengan terbentuknya Negara-negara dalam kancah revolusi Perancis. Oleh karena itu konsep ‘modern’ juga membangkitkan asosiasi dengan demokratisasi masyarakat, terutama hancurnya hak-hak istimewa yang turun temurun dan pernyataan tentang persamaan hak-hak warga Negara. (Bendix, 1970 ; 1)

 

Dalam makalah analisis sosiologi-antropologi Afrika ini, saya menggunakan satu teori dari Talcot Parson. Memakai analisis teori structural fungsional yang ia jelaskan dalam buku The Social System, dan karya berikutnya yang menguraikan fungsi berbagai struktur bagi dipertahankannya sistem sosial. Juga kajian mengenai fungsi struktur bagi dipecahkannya lima masalah: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, pemeliharaan pola dan pengendalian ketegangan (Turner, 1978:51).

Pada abad ke-19 masyarakat-masyarakat tradisional di Timur Tengah terbangun oleh pengaruh peradaban barat dan abruk karenanya. Barat tidak dapat mengganti nilai-nilai yang telah menghancurkannya itu, demikian pula jamahannya tidak banyak melampaui kelas-kelas atas dan menengah. Yang terakhir ini dengan sendirinya tidak dapat disamakan dengan kelas menengah di Barat. Kelas itu terdiri dari pagawai-pegawai pemerintah yang digaji dan tenaga-tenaga profesi. Kelas-kelas lainnya untuk bagian terbesar tidak terjamah, terutama kaum tani. Massa rakyat, pada hakikatnya, tetap mempertahankan banyak dari norma-norma dan bentuk-bentuk tradisional. Sejumlah masyarakat, meskipun tidak tradisional lagi, paling banter baru memasuki tahap transisi (peralihan). (Belling dan Totten, 1985:262)

Proses modernisasi di negara-negara berkembang seringkali merupakan tata usaha yang menyeluruh, yang dengan sendirinya melibatkan mobilisasi sumber-sumber daya nasional lainnya. Oleh karena sejumlah bangsa baru dalam menyusun program-program pembangunan, mereka secara sadar telah meniru model-model sosialis, seperti contoh di negara Aljazair dan Tunisia.

Apa yang dinamakan model Almond-Coleman (1960) bukan merupakan usaha yang pertama dalam ilmu perbandingan politik untuk menggarap masalah membandingkan system-sistem politik Barat dengan system-sistem tradisional dan peralihan, namun demikian ia merupakan satu tonggak jarak yang penting. Model itu, yang didasarkan atas model input-output yang sebelumnya dari David Easton (1957:383-400), mengambil kategori-kategori fungsionalnya dari system-sistem yang sudah maju, lalu menerapkannya pada daerah-daerah yang terbelakang.

Dengan menggunakan cara pendekatan structural fungsional, Almond-Coleman menghindari kesalahan untuk mengacaukan masalahnya dengan komitmen-komitmen ideology yang mungkin telah diadakan oleh negara-negara yang terbelakang. Mereka menggunakan pengukuran-pengukuran empiris bagi berbagai fungsi dan dengan begitu dapat menggolongkan mereka berdasarkan perbandingan di bidang pembangunan – tradisional, peralihan, dan modern. Akan tetapi, oleh karena diambil dari system-sistem yang sudah maju, kategori-kategori itu menimbulkan masalah-masalah yang serius, hingga ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membetulkannya.

Fred W. Riggs (1957:23-116), umpamanya, dalam usahanya untuk mengadakan koreksi, telah mengembangkan sebuah model yang cocok dengan campuran antara tradisional dan modern sebagaimana yang ditemukan di negeri-negeri yang sedang berkembang. Menurut modelnya yang ‘prismatik’ itu, maka cirri masyarakat-masyarakat peralihan adalah bahwa mereka terletak sepanjang suatu continuum antara masyarakat yang fused dan masyarakat yang refracted. Yang pertama adalah masyarakat tradisional di mana satu struktur, seperti keluarga, suku, atau marga (klan), melakukan semua fungsi kemasyarakatannya. Dalam masyarakat yang kedua, yakni yang modern, terdapat struktur-struktur khusus untuk tiap fungsi, seperti gereja, masjid, sekolah, pemerintah, dan lembaga stratafikasi lainnya.

Riggs membahas masalahnya dalam sebuah sub-model administrative dari masyarakat prismatic, atau masyarakat peralihan, dan menamakannya dengan model sala (konsep serba guna sebagai prototype fungsi rumah atau keratin yang dijadikan pusat pemerintahan).dengan menggunakan sala sebagai tempat kedudukan administrasi baik dalam masyarakat yang fused maupun dalam masyarakat yang refracted. Riggs memberikan sususan dalam sala dalam masyarakat-masyarakat prismatic yang heterogen, formalistis, dan saling melimpahi. Heterogen mengandung implikasi satu campuran tradisional dan modern; formalistis, perbedaan antara peraturan dan praktek; dan saling melimpahi, apabila fungsi-fungsi modern dilakukan oleh struktur-struktur tradisional, seperti keluarga atau kelompok komunal. Belling dan Totten, 1985:264)

Sebagai satu alat heuristik, model prismatic itu menyingkapkan cirri campuran dari proses pembangunan. Jika diterapkan pada pengembangan sumber-sumber daya manusia, model itu menempatkan dalam hubungan-hubungan yang sebenarnya beberapa di antara masalah-masalah yang khas – dan yang menyebabkan frustasi – yang terdapat pada masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang.

Dalam kasus nagara-negara berkembang seperti Kenya, Ghana, Nigeria, Afrika Selatan, Kongo, Liberia, Somalia, Uganda, juga Rwanda, teori ini nampaknya membuat masyarakat belum bisa menyesuaikan diri. Khususnya dari aspek ekonomi, negara-negara di atas sangat memprihatinkan. Sebagai contoh, seperti yang ditulis oleh Dr. Mereda John Opio, Dekan Administrasi Dan Manajemen Bisnis Universitas Uganda ;

*Kenya: 30. 6% populasi tidak bertahan hidup hingga usia 40 tahun; 56% populasi tanpa persediaan air minum; 42% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan 26% mempertahankan hidup dengan penghasilan kurang dari 1$ per hari.

* Ghana : 20. 6% orang-orang bukan diharapkan untuk terus hidup ke 40; 75% tidak punya akses jasa kesehatan, 68% tidak punya akses penjagaan kesehatan; 31. 4% kehidupan di bawah garis kemiskinan nasional, sementara 78.4% mempertahankan hidup kurang dari 1$ per hari.

*Nigeria : 33. 3% bukan diharapkan untuk hidup ke 40; 51% tidak punya akses untuk menyimpan air minum; 59% kurang mendapatkan jasa kesehatan; 70. 2% mempertahankan hidup kurang dari 1$ per hari, sementara 43% hidup di bawah garis kemiskinan nasional.

*Afrika selatan : 25. 9% populasi bukan diharapkan untuk terus hidup ke 40; 13% adalah tanpa akses untuk menyimpan air dan penjagaan kesehatan; 11. 5% mempertahankan hidup kurang dari 1$ per hari.

*Uganda : 45. 9% bukan diharapkan untuk terus hidup ke 40; 54% tidak punya akses untuk menikmati air minum; 29% tidak punya akses jasa kesehatan; 43% tidak punya akses kesehatan; 36% mempertahankan hidup kurang dari1$ per hari, sementara 55% hidup di bawah garis kemiskinan nasional.

 

Negara-negara berkembang seperti itu adalah satu dunia dengan perampasan luar biasa, tekanan kemelaratan dan kekacauan integritas. Masalah lama masih menjadi persoalan utama bangsa. Kemiskinan, kelaparan, pelanggaran hak-hak asasi manusia, minim dari daya tarik wisatawan sebagai penuymbang devisa juga penindasan pada kaum peremuan. Selain itu, ancaman dari kaum separatis yang selalu meneror keamanan negara menjadikan perekonomian dan fungsi struktural masyarakat terganggu.  Walaupun kekacauan seperti ini dapat diamati seperti halnya di negara-negara lemah Asia, Eropa dan Amerika, keadaan tampak lebih parah untuk negara-negara Afrika. (John Opio:2000)

Termasuk peningkatan perang saudara dan seringnya terjadi peperangan antar masyarakat telah mengarahkan Afrika ke dalam satu pandangan pada perselisihan serius. Dasa warsa terakhir telah menyaksikan gagalnya pemerintahan di Somalia, Liberia, Rwanda dan Kongo, dan kegagalan umum dari rencana pembangunan nasional sepanjang benua.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bendix, Reinhard. 1970.Tradition and Modernity Reconsidered. California. University of California.

Turner, Jonathan.1978. Handbook of Sociological Theory. New York. Kluwer Academic/Plenum Publishers.

Totten, dkk. 1985. Modernisasi: Masalah model pembangunan. Jakarta. Yayasan ilmu-ilmu sosial.

Colemant, James.S. 1960. The Politics of the developing areas. Princeton; Princeton Unversity Press.

Easton, David. 1957. An approach to the analysis or political systems. New York; New York Press.

Riggs, Fred.W. 1957. Agrarian and industrial; toward a typology of comparative administration. Bloomington; University of Indiana Press.

John Opio, 2000. Pembangunan ekonomi & Pembangunan Bangsa di Afrika: Mencari satu Paradigma Baru (artikel).



    • Agustina
    • November 9th, 2010

    Nama: Agustina
    NIM : 0705930

    Disini penulis akan mencoba mengkaji tentang pembangunan di negara-negara Afrika seperti hal nya diatas. Jika kita melihat penjelasan pada sebelumnya yang melihat proses pembangunan perekonomian di Afrika yang dikaji melalui teori struktural fungsional. Maka disini saya akan mencoba mengkaji proses pembangunan di Afrika dengan teori dependensi klasik.
    tapi sebelumnya komentar saya kepada tulisan rekan saya yg diatas adalah: pendapat Farid yang menyatakan bahwa perekonomian di Afrika tidak akan berkembang sebelum adanya keteraturan struktur fungsional dalam masyarakatnya. Tapi jika kita melirik pada teori konflik yang dikemukakan Dahrendorf bahwa Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.disini jika melihat pernyatan dahrendorf tersebut maka sebenarnya ketidakteraturan struktur masyarakat kemungkinan besar akan menghasilkan sebuah perubahan sosial jg yang kemungkinan dalam hal perekonomian Afrika meski banyak terjadi ketidakteraturan struktur masyarakat namun dengan adanya teori konflik yg di kemukakan dahrendorf maka dapat dikatakan sebuah kesemrawutan struktur masyarakat adalah hal yang biasa terjadi dimana-mana dan kapan pun dan nantinya pun pasti akan menemukan sebuah titik puncak/temu yang pada akhirnya jg akan merujuk pada kemungkinan perubahan sosial ke arah lebih baik.

    Pendahuluan
    Pembangunan dapat diartikan sebagai berikut:
    •Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan per¬ubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”.
    •Ginanjar Kartasas¬mita (1994) memberikan pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.
    Jadi pembangunan merupakan sebuah istilah yang menunjukkan sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik yang dilakukan secara terencana.
    Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi ke dalam dua paradigma besar,yaitu modernisasi dan ketergantungan (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995 dalam Tikson, 2005). Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan. Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under-development) ketergantungan (dependent development) dan sistem dunia (world system theory) sesuai dengan klassifikasi Larrain (1994). Sedangkan Tikson (2005) membaginya kedalam tiga klasifikasi teori pembangunan, yaitu modernisasi, keterbelakangan dan ketergantungan. (didapat dari : http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/)
    Teori Dependensi (ketergantungan) merujuk kepada menggantungkan nasib secara berlebihan kepada negara lain. Teori ketergantungan menggunakan teori-teori ekonomi dan politik untuk menjelaskan bagaimana proses perdagangan internasional dan pembangunan domestik membuat sejumlah negara berkembang menjadi lebih bergantung secara ekonomi kepada negara maju

    ISI
    Seperti kita ketahui negara-negara di Afrika hampir semuanya termasuk kedalam negara berkembang terbelakang. Dikatakan negara berkembang terbelakang karena rendahnya kualitas hidup, seperti rendahnya usia harapan hidup (51 tahun), tingginya kematian bayi (110/1000) dan anak (177/1000). Tingginya kematian bayi dan anak merupakan yang tertinggi di dunia yang diakibatkan oleh infeksi dan penyakit menular.
    Jika kita mengkaji lebih dalam, pembangunan negara-negara Afrika banyak dibantu oleh negara-negara maju yang sering disebut dengan negara sentral. Kawasan Afrika memiliki arti penting bagi Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa Barat (Inggris, Prancis, Belanda, Portugis/Portugal, dan Belgia), Rusia, Jepang dan RRC. Akumulasi kepentingan itu dapat dilihat dari besarnya pengaruh yang diperlihatkan oleh negara-negara besar tersebut dalam menjalin hubungan kerjasama dengan negara-negara di benua Afrika baik dalam bidang Ekonomi, Politik, Pertahanan-keamanan, dan Sosial-kemasyarakatan.
    Jika kita melihat hal diatas, kebijakan atau kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara maju tersebut terhadap negara-negara Afrika dapat dikatakan sebuah awal bagi negara-negara di afrika untuk memasuki gerbang ketergantungan terhadap negara-negara maju. Menurut penulis jika meurujuk pada yang di katakan Dos Santos mengenai kemungkinan kesejarahan tiga bentuk utama situasi ketergantungan, yaitu
    •ketergantungan kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat eksploitatif.
    •ketergantungan industri keuangan: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan financial-industri.
    •Ketergantungan teknologi industri: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui monopoli teknologi industri.
    Negara dunia ketiga dalam hal ini adalah negara-negara di Afrika cenderung memiliki tingkat defisit yang besar atau tinggi. Hal itu dikarenakan negara maju membawa keuntungan besar yang diperoleh dari negara dunia ketiga. (Alvin&suwarsono, 2000:8-9)

    Adapun contoh dari pengaruh-pengaruh tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
    1. Amerika Serikat
    Sebagai negara super power Amerika Serikat tentunya memiliki kemampuan dan kekuatan baik dalam bidang ekonomi dan militer untuk memberikan pengaruhnya dalam rangka pencapaian kepentingan nasionalnya di wilayah Afrika. Melalui citra demokratisasi dan penegakan HAM, AS mulai menjalankan pengaruh dan hubungan kerjasama dengan negara di benua hitam ini utamanya pada bidang:
    Bidang Ekonomi
    AS-Libya
    Amerika Serikat telah memberlakukan embargo ekonomi terhadap Libya selama lebih dari 18 tahun. Padahal Libya sangat membutuhkan investasi asing untuk membangun sektor industri energinya. Sebaliknya saat ini Amerika sedang mengalami krisis energi, dan berkeinginan untuk melakukan diversifikasi sumber-sumber energinya. Libya sebagai negara yang diembargo oleh AS muncul sebagai negara yang memiliki sumber minyak besar. Akhirnya melalui pendekatan politik dimana Libya telah mengakui untuk menghentikan proyek nuklirnya menjadi pembuka pintu hubungan diplomatik antara AS-Libya pada tahun 2004.
    Hubungan kerjasama AS dan Libya ditandai dengan adanya pemberian kesempatan oleh Libya kepada perusahaan minyak AS yang sebelumnya pernah beroperasi di Libya untuk kembali menanamkan modalnya. Perusahaan minyak tersebut antara lain ConocolPhilips Co, Marathon Oil Corp, dan Amerada Hess Corp yang akan bekerjasama dengan perusahaan nasional Libya yakni Libyan National Oil Corp dalam memproduksi minyak sebanyak 300.000 barel per hari.
    AS-Angola
    Amerika bertujuan untuk mempererat hubungan diplomatiknya dengan Angola. Hubungan kedua negara sebenarnya sudah mulai membaik setelah perang saudara 27 tahun di Angola. Waktu itu Amerika membantu pemerintah memerangi UNITA yang sekarang merupakan partai oposisi terbesar di Angola. Kerjasama antara Amerika dan Angola diutamakan dalam hal pembangunan ekonomi Angola.
    Selama ini Angola merupakan negara penghasil minyak terpenting Afrika. Sebesar 7 persen minyak AS diimpor dari Angola dan dalam beberapa tahun terakhir milyaran dolar diinvestakan dua perusahaan AS, Chevron dan Exxon Mobil untuk mendongkrak produksi minyak Angola. Keadaan yang demikian tentunya membawa angin segar bagi pertumbuhan ekonomi Angola, namun fakta menunjukkan dua pertiga rakyat negeri itu berpenghasilan tidak sampai dua dolar per hari.
    Ternyata dalam daftar 180 negara paling korup di dunia, Angola berada pada peringkat 158 dan pemerintah AS ingin agar pemerintah Angola membasmi korupsi. Dukungan AS atas pemberantasan korupsi di Angola cukup beralasan karena pemerintahan yang baik akan mampu menjamin terjalinnya kerjasama ekonomi yang baik antara kedua negara utamanya dalam mengekspor minyak ke AS.

    2.Jepang
    Bidang Ekonomi
    Jepang saat ini tumbuh sebagai negara dengan ekonomi maju yang bertitik tolak pada peningkatan hasil industri dan teknologi. Industri utama Jepang adalah otomotif sekaligus mengembangkan industri manufaktur tetapi negara ini kekurangan SDA untuk menopang industrinya sehingga harus membuka hubungan kerjasama dengan negara-negara penghasil bahan mentah di Afrika untuk menopang kebutuhan bahan mentahnya. Saat ini Jepang telah menjalin hubungan kerjasama dengan negara Afrika Selatan dalam hal barang tambang (platinum dan uranium) untuk mendukung produksi otomotifnya serta menjalin hubungan baik dengan Libya dalam hal pemenuhan energi. Perusahaan ternama asal Jepang yakni “Teikoku” menjadi kaki tangan Jepang dalam proyek energy dan pengeboran kilang minyak di lepas pantai Libya.

    3. Republik Rakyat Cina (RRC)
    Berakhirnya Perang dingin antara AS dan Uni Soviet yang disusul dengan jatuhnya hegemoni Uni Soviet member jalan bagi Cina sebagai kekuatan ekonomi dunia untuk memberi pengaruh pada negara-negara di Afrika. Republik Rakyat Cina (RRC) sudah mulai menunjukkan minat dan pengaruh yang besar pada Afrika, setidaknya pada sumber daya alam yang terkandung di benua tersebut. Sebagai bukti ketertarikannya, pada tahun 2006 Cina mengadakan KTT China-Afrika yang dihadiri oleh 48 pemimpin negara-negara Afrika di Beijing. Dalam KTT tersebut disepakati 16 perjanjian perdagangan dan investasi dengan Cina yang nilainya mencapai angka US$ 1,9 miliar. Setelah KTT tersebut, sebagai langkah awal presiden China Hu Jintao akhirnya mengunjungi 8 negara Afrika pada tahun 2007 untuk mengadakan perjanjian dan memberikan bantuan yang akan diberikan terhadap negara-negra di benua Afrika serta melihat keberhasilan kerjasama dengan negara-negara Afrika yang telah dijalin sebelumnya
    Sebagai calon negara super power, Cina ternyata memiliki pengaruh dan kepentingan yang cukup besar terhadap negara-negara di Afrika utamanya jika dilihat pada:
    Bidang Ekonomi
    Cina menebar hubungan kerja sama ekonomi dengan berbagai negara di Afrika. Hubungan kerjasama tersebut sebagian besar pada sektor energi dengan maksud untuk menopang kebutuhan energi Cina. Cina memiliki cadangan minyak yang sedikit dan diperkirakan pada tahun 2030 akan mengimpor minyak sebanyak 7,3 juta barel setiap tahunnya. Demikian pula dengan sumber-sumber energi lainnya yang secara pribadi tidak dapat dipenuhi oleh negara itu dari hasil SDAnya sendiri. Saat ini Cina mengambil minyak bumi dari Nigeria, Guinea Ekuatorial, Sudan, Gabon, dan Angola. Biji besi dan Platinum dari Afrika Selatan. Tembaga dan Kobalt diimpor dari Republik Demokrasi Kongo (RDK) dan Zambia.
    Cina-Sudan
    Di tengah pergolakan politik/pemerintahan serta konflik internal yang terjadi di Sudan, Cina tetap berupaya untuk melirik dan mendapatkan pasokan minyak yang sebesar-besarnya dari negara ini. Sudan sebagai negara terbesar di Afrika telah menjadi mitra bisnis Cina yang memberi dampak yang cukup signifikan. Saat ini Cina melahap 60% ekspor minyak dari Sudan, padahal sebelum kedatangan Cina di Sudan, negara ini merupakan net importir minyak. Namun Cina membantu Sudan untuk membangun sumur penyulingan minyak serta jalur pipa minyak secara besar-besaran dari wilayah Selatan Sudan ke Port Sudan di wilayah Laut Merah. Hal ini menyebabkan Sudan menjadi pengekpor minyak yang sebagian besar diekspor ke Cina.
    Selama konflik Darfur di Sudan terjadi, Cina telah mengirimkan 4.000 tentara ke Sudan untuk melindungi investasinya di sana dalam proyek jalur pipa minyak yang dikerjakan bersama-sama petronas Malaysia. Bagaimanapun Cina telah berupaya untuk melindungi asset-asetnya di wilayah Afrika utamanya yang merupakan wilayah konflik bahkan dengan menggunakan cara-cara yang sama dengan AS dan Inggris.

    Cina-Angola
    Angola merupakan salah satu negara yang bergejolak di benua Afrika. Angola merupakan negara yang dijauhi dan dihindari oleh kebanyakan negara Barat. Namun keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh Cina untuk menperluas pengaruhnya. Pada Maret 2004, Cina memberikan Angola pinjaman lunak sebesar US$2 miliar sebagai penukar bagi 10.000 barel minyak per hari yang merupakan angka 35 % dari jumlah impor minyak Cina dari luar.
    (http://jannaluchuw.wordpress.com/2010/03/07/tugas-kuliah-studi-kawasan-afrika/)

    Jadi setelah melihat kerjasama yang dilihat diatas yaitu kerjsama Amerika serikat dengan Libya dan Angola, Cina dengan Sudan dan Angola yang kedua negara besar tersebut menjalin kerja sama dengan negara-negara di Benua Afrika tersebut karena memang mereka membutuhkan pasokan minyak besar dari negara-negara di Afrika tersebut. Secara kasat mata bantuan yang diberikan oleh negara-negara maju kepada negara-negara berkembang terbelakang tersebut memang seolah-olah pihak negara-negara maju sebagai Hero bagi negara-negara Afrika yang diajak untuk menjalin kerjasama. Namun pada kenyataannya hanya membuat negara-negara berkembang di Afrika tersebut menjadi ketergantungan terhadap negara-negara maju terlebih dalam hal ekonomi. Seperti yang dikatakan dalam buku Perubahan Sosial Dan Pembangunan karangan Y.so dan Suwarsono bahwa pembangunan industri sangat kuat dipengaruhi oleh monopoli teknologi negara maju.
    Pernyataan Yso dan Sowarsono dalam bukunya tersebut kemungkinan besar terjadi pada negara-negara berkembang di Afrika yang menjalin kerjasma dengan pihak negara-negara maju. Dimana negara-negara berkembang tersebut akan terlilit dengan kebutuhan pembiayaan modal asing berupa bantuan dan utang modal.

    Kesimpulan
    Teori dependensi klasik lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara dunia ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara-negara maju (Y.so&Suwarsono, 2000:89).
    Teori dependensi telah secara tegas dan detail menguraikan akibat buruk dari kolonialisme dan pembagian kerja internasional. Teori ini berpendapat bahwa selama hubungan pertukaran yang tidak berimbang tetap bertahan sebagai landasan hubungan internasional, maka ketergantungan dan keterbelakangan negara dunia ketiga tetap tak terselesaikan. Seperti apa yang dirasakan oleh sebagian negara-negara di Afrika yang telah menjalin kerjasama dengan negara-negara maju. Negara-negara maju semakin terbantu dan semakin maju dengan kekayaan alam yang diekspolitasi secara sengaja dari negara-negara Afrika. Sedangkan negara-negara Afrika semakin sengsara dan semakin terikat dengan bantuan modal asing.
    Dan penulis mengutip dari sebuah situs harian internasional http://www.dw-world.de yang isinya:
    “Masalahnya bukan bantuannya, akan tetapi dampak dari bantuan itu. Coba Anda lihat, mengapa Afrika mendapat uang begitu banyak. Ini kesalahan sistem yang sudah lama. Sistem yang membuat warga Afrika semakin jatuh ke dalam kemiskinan. Sistem ini harus diubah. Bantuan pembangunan negara berkembang tidak mendukung perubahan. Malah sebaliknya. Afrika dibuat semakin tergantung dan warganya dibujuk terus dengan mengatakan, mereka tidak dapat menyelesaikan sendiri masalahnya.” Papar James Shikwati lebih jauh. (http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4149952,00.html)

    DAFTAR PUSTAKA

    Y.So, Alvin & suwarsono. 2000. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta:LP3ES

    Ekonom Afrika Usul Penghapusan Bantuan Pembangunan. dari http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4149952,00.html

    Pengertian pembangunan. dari http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/

    Pengaruh Negara-negara Besar di Afrika (Studi Kawasan Afrika). dari http://jannaluchuw.wordpress.com/2010/03/07/tugas-kuliah-studi-kawasan-afrika/

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: