Perkembangan Perekonomian Korea Selatan

Nama: Fanny Septiani Jaya  (0704668)

Perkembangan ekonomi mengacu pada masalah negara terbelakang, sedang pertumbuhan mengacu pada masalah negara maju. Menurut Schumpeter, perkembangan adalah perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang senantiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap yang terjadi melalui kenaikan tabungan dan penduduk.

Sebagai salah satu dari Macan Asia Timur Korea Selatan telah mencapai rekor pertumbuhan yang memukau, membuat Korea Selatan ekonomi terbesar ke-12 di seluruh dunia. Setelah berakhirnya PDII. Kesuksesan ini dicapai pada akhir 1980-an dengan sebuah sistem ikatan bisnis-pemerintah yang dekat, termasuk kredit langsung, pembatasan impor, pensponsoran dari industri tertentu, dan usaha kuat dari tenaga kerja. Perkembangan ekonomi Korea Selatan yang sangat pesat tidak lepas dari banyaknya pekerja asing di Korea Selatan untuk bekerja di sektor-sektor industri menengah dan kecil yang menjadi motor penggerak industri besar. Salah satu hal yang unik dalam ekonomi Korea Selatan adalah peranan chaebol (konglomerat) yang mendominasi sejak lama dan kebanyakan didirikan setelah Perang Korea. Pada 1995, di antara 30 atas chaebol, empat grup teratas Hyundai, Samsung, Daewoo, dan LG Group. Pada 2003, hanya 4 dari 18 chaebol terbesar tetap berjalan. Namun, mereka tetap mendominasi aktivitas ekonomi.

Teori ketergantungan merupakan bagian dari “model-model strukturalis internasional”, yang secara esensial memandang negara-negara dunia ketiga sebagai benda yang diatur oleh kekakuan struktur ekonomi dan institusional serta terperangkap dalam suasana ‘ketergantungan’ dan ‘dominasi’ terhadap negara-negara kaya. Terdapat dua jalur dalam model strukturalis internasional ini yaitu model dependensi ‘neo-kolonial’ dan model ‘paradigma tiruan/palsu’. Model dependensi neo-kolonial merupakan sisa-sisa pertumbuhan dari pemikiran Marxis. Ciri pemikiran ini adalah eksistensi dan memelihara keterbelakangan dunia ketiga, terutama sekali terhadap evolusi historis mengenai sistem kapitalis internasional yang betul-betul tidak sama dalam hubungan negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Model paradigma tiruan/palsu yaitu atribut keterbelakangan dunia ketiga mengenai kesalahan dan ketidaksesuaian nasehat yang diperoleh dengan baik tetapi negara maju/donor seringkali kurang jelas atau kekurangan bahan mengenai kondisi atau latar belakang masing-masing negara yang sedang berkembang. Negara maju/donor memberikan konnsep-konsep yang besar, struktur teoritikal yang baik dan model-model ekonometrik yang kompleks mengenai pembangunan yang seringkali menimbulkan kekurangsesuaian atau menimbulkan kebijakan-kebijakan yang keliru karena faktor-faktor institusional dan struktural

Korea  memilih ekspor sebagai strategi pertumbuhan ekonomi mereka. Khususnya, Korea memfokuskan pada penjualan produk manufaktur ke luar negeri, dan strategi hidup demikian mendorong negara ini, dari salah satu negara paling miskin di dunia yang ambruk karena Perang, ke salah satu anggota negara G20 selama waktu hanya dalam setengah abad. Korea telah berhasil mengubah dirinya dari penerima bantuan internasional menjadi negara donor. Pada masa lalu, tulang punggung perekonomian Korea berbasis pada pengolahan bahan dan komponen yang diimpor dari luar negeri dan mengekspor produk jadi itu. Dengan perkembangan ekonomi, impor Korea juga meningkat dari pangan hingga barang merek mewah. Ini menunjukan ketergantungan terhadap barang impor semakin meningkat. Data yang diumumkan PGI kali ini adalah hasil bersama yang dikumpul oleh Bank Penyelesaian Internasional, Bank Sentral Eropa, IMF, OECD, PBB dan Bank Dunia.

PGI untuk G20 negara itu menunjukan bahwa Korea menempati ranking teratas dalam ketergantungan pada ekspor dan impor, dan hal itu menunjukan bahwa perdagangan luar negeri menempati porsi besar dari Produk Domestik Bruto. Khususnya, krisis keuangan global baru baru ini dan resesi ekonomi akibat itu meningkatkan ketergantungan perdagangan Korea pada luar negeri, maka rasio keterganutngan Korea pada impor –ekspor mencapai kisaran 80 persen.

Pemerintah mempromosikan impor bahan mentah dan teknologi demi barang konsumsi dan mendorong tabungan dan investasi dari konsumsi. Krisis Finansial Asia 1997 membuka kelemahan dari model pengembangan Korea Selatan, termasuk rasio utang/persamaan yang besar, pinjaman luar yang besar, dan sektor finansial yang tidak disiplin.

Kasus Korea Selatan menunjukkan kunci sukses suatu pembangunan ekonomi bukan terletak pada ada atau tidak adanya SDA (Sumber Daya Alam), tetapi pada ada tidaknya kemauan dan kemampuan manusianya, terutama level pemimpinnya, dan pada pilihan pilihan strategi kebijakan. Menurut ekonom Korea Institut for International Economic Policy, Chuk Kyo Kim, adalah karena negara ini memberikan perhatian besar pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif di kegiatan penelitian dan pengembangan.

Sukses Korea Selatan juga ditopang oleh tumbuh suburnya jiwa kewiraswastaan, tenaga kerja yang sangat terlatih, pengelolaan utang luar negeri yang baik, pemerintahan yang relatif bersih, iklim perdagangan dunia yang liberal, makro-ekonomi yang solid, dan kondisi sosial-politik yang relatif bebas dari konflik

Dari sisi strategi kebijakan, dari awal penguasa Korea Selatan menyadari pentingnya mengembangkan sektor generatif. Hal itu meliputi sektor-sektor ekonomi unggulan yang secara simultan bisa menjadi sumber akumulasi kapital dan memungkinkan terjadinya pertumbuhan berbagai industri turunan dan industri terkait, sekaligus sumber inovasi teknologi dan kelembagaan, seperti pada kasus industri baja dan industri pembuatan kapal.

 

SUMBER:

Prof. Dr. Ny. Sajogyo P. 1985. Sosiologi Pembangunan. Jakarta

Effendi, Aan. 1988. Tata Ekonomi Dunia Dan Politik Pembangunan. Jakarta : PT. Midas Surya

Grafindo.

World Compugraphic Co., Ltd. 1995. Sejarah Korea. Korea: Radio Korea Internasional.

 

Kbs World. (2010). perkembangan perekonomian negara korea. [online]. Tersedia: http://rki.kbs.co.kr/indonesian/news/news_zoom_detail.htm?No=5846. [18-08-2010].

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: