Saat ini komputer dipakai dalam banyak aspek kehidupan, kita menggunakannya antara lain untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaan kita. Banyak vendor menawarkan beragam komputer dengan berbagai spesifikasi dan harga. Lalu komputer manakah yang cocok untuk menunjang pekerjaan kita? Apakah komputer dengan spesifikasi hardware tertinggi pasti menjadi pilihan yang paling tepat? Sementara semakin tinggi spesifikasi komputer biasanya juga berarti semakin mahal harganya. Skenario marketing vendor komputer selalu menyatakan komputer terbarulah yang paling efektif untuk menunjang pekerjaan kita dan paling sesuai dengan gaya hidup modern.

Suatu ketika seseorang minta pendapat saya ketika dia mau membeli komputer lagi untuk menggantikan komputernya yang lama (Pentium IV). Saya bertanya kepadanya komputer baru itu nantinya akan dipakai apa saja, jawabnya hanya untuk menjalankan program office, dia juga tidak suka memainkan game komputer. Kalau begitu jangan beli komputer baru tapi pakai saja komputer yang lama, kata saya. Wah gengsi dong, katanya.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya berkerja di sebuah konsultan IT, saya mengerjakan sebuah proyek sistem informasi untuk suatu instansi pemerintah. Untuk mengerjakan proyek itu saya menggunakan sebuah komputer Pentium III di kantor, pada masa itu Pentium IV sedang baru-barunya beredar di pasaran. Berhubung saya kadang-kadang diijinkan bos untuk tidak masuk kantor dan bekerja di rumah, maka saya juga menggunakan komputer rumah, Pentium II dengan RAM hanya 64 MB. Pada hari yang telah ditentukan saya datang ke kantor instansi pemerintah tersebut untuk melakukan instalasi, disana sudah terdapat sejumlah komputer dengan spesifikasi terbaru. Ketika saya berjumpa dengan pimpinan proyek tersebut, dengan nada bangga dia menanyakan apakah spesifikasi komputer yang telah dibelinya itu sesuai dengan spesifikasi program yang saya buat. Saya pikir dia cuma mau pamer saja atau mungkin takut dibilang ketinggalan jaman. Seandainya saja dia tahu komputer apa yang saya pakai di rumah untuk mengerjakan proyek itu.

Bahkan saya lihat sendiri pada masa itu kantor WIKA di Way Halim Lampung masih menggunakan DOS dan Lotus123 dalam kegiatan sehari-harinya. Meskipun program Lotus123 itu sudah ketinggalan jaman, tapi di tangan operator yang handal dia dapat mengendalikan arus keluar masuk barang dan arus keuangannya, yang fungsinya sebanding dengan program Billing of Material (BOM) yang pada masa itu masih jarang dan cukup mahal.

Setiap orang tentu boleh membeli komputer dengan spesifikasi yang diinginkannya, toh itu uang mereka sendiri. Tetapi jika anda hanya akan mengangkut satu gerobak pasir, apakah anda akan menggunakan truk tronton daripada mobil pickup kecil. Juga apakah anda akan menggunakan lokomotif kelas CC jika hanya digunakan untuk menarik satu gerbong, sementara ada lokomotif kelas BB yang lebih kecil.

Buat saya membeli komputer itu spesifikasinya disesuaikan dengan kebutuhan, dalam hal ini spesifikasi software yang akan kita instal pada komputer itu. Sampai saat ini saya masih menggunakan laptop ECS (prosesor transmeta 533 mhz, RAM 256 MB) yang sudah berumur 6 tahun untuk development software. Web server dan database server juga selalu menyala bersamaan didalam laptop tua itu. Aplikasi Point of Sales (POS) untuk Koperasi Madania juga saya develop menggunakan laptop yang sudah mulai berkarat itu. Sebagian besar tool untuk development yang saya gunakan menyatakan minimal hardware requirement-nya hanya prosesor sekelas Pentium III.

Ketika memutuskan akan membeli komputer lagi, saya mempunyai pemikiran yang sama dengan sebagian orang yang menang pilkada, yaitu kapan balik modalnya nih, karena saya tidak mau hanya menjadi sasaran marketing orang. Sebenarnya komputer sekelas Pentium IV sudah cukup untuk kegiatan pembuatan software dengan tools masa kini, tetapi saya terpaksa membeli komputer dengan spesifikasi diatas itu karena saat ini Pentium IV sudah tidak dibuat oleh vendor komputer.

Bagaimana dengan anda, apakah anda membeli komputer sesuai dengan kebutuhan atau karena tanpa sadar anda telah menjadi korban strategi marketing vendor komputer ?

Wednesday, November 25, 2009 Robi Kurniyadi

Iklan