Oleh: Hakim Benardie Sabrie (http://www.metrobengkulu.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=97)

Nama negeri Lu-Shiangshe (sekarang nama sungai Lusang) di Provinsi Bengkulu disebut dalam peta yang dibuat Strabo 63 sM- 21 M, seorang ahli Ilmu bumi bangsa Amasia Mesir, dan peta yang dibuat Claudius Ptolemaeus 127-151 M, seorang ahli ilmu bumi bangsa Yunani yang ditemukan 165 M. Claudius Ptolemaeus adalah putra kelahiran Iskandariah Mesir dan tinggal di Alexandaria, menyebutkan dalam peta adanya “Golzden Chersonese” Pulau Emas di Jabadiou, sebagai mana yang juga disebut dalam kitab Ramayana dengan istilah Yavdvipha atau javaviva. Pencari emas yang berlomba-lomba inilah nantinya banyak menyebar keseluruh pelosok negeri.

Dua naskah kuno lainnya yang menceritakan tentang negeri Lu-Shiangshe, pertama didalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) yang ditemukan di negeri Syriah (Suriah) ± 350 sM. Kisah ini menceritakan bahwa “Nabi Silaiman as (± 600 sM) pernah memerintahkan pelaut Phoenisia untuk berlayar keseluruh penjuru dunia, mencari ophir (tambang emas)”.

Peta pelayaran kuno yang dibuat berdasarkan tulisan geograf Starbo (63 sM – 21 M) merupakan peta jalur pelayaran dari Eropa ke Cina, yang menyebutkan adanya rute pelayaran dunia melintasi Selat Sunda (Indonesia) untuk sampai ke negeri Cina. Idrisi atau Edrisi (1099 – 1154 M) lahir di Ceuta, seorang ahli Ilmu Bumi (geografi) bangsa Arab-Sepanyol masa pemerintahan Roger II. Risalah yang dibuatnya adalah merupakan kumpulan isi terpenting dari buku-bukunya terdahulu, juga merupakan gabungan dan lanjutkan dari karya Ptolomeus dan Al Masudi tentang peta bumi dan pelayaran.

Edrisi membuat risalahnya berdasarkan laporan-laporan asli yang dikirimkan oleh para peninjau yang dikirimkan keberbagai negeri untuk menguji kebenaran bahan laporan tersebut. Dengan perbandingan yang kritis Edrisi telah menunjukan suatu pandangan yang sangat luas dan memberikan pengertian mengenai kenyataan hakiki tentang kebulatan bentuk bumi. Ia juga berhasil menentukan sumber-sumber air sungai Nil yang berasal dari daratan tinggi khatulistiwa Afrika, dan dia berhasil membuat konstruksi bulatan langit dan peta dunia dalam bentuk cakra (Kedua-duanya terbuat dari perak).

Peta pelayaran 1411 M (merupakan peta pelayaran) yang hanya menyebut beberapa negeri yang disinggahi perahu layar pemiliknya. Di Pulau Sumatera hanya terdapat kota pelabuhan Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung, Provinsi Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar. Peta lainnya yang dibuat oleh Petrus Bertius dan Jodocus Hondius pada tahun 1618 M dan peta tahun 1740 M yang diterbitkan Matthnum Seutter.

Bangsa China Datang Tahun 225-216 SM

Di wilayah Lais, Ketaun dan Bintunan (baca: Peta zaman Belanda) disebutkan bahwa didaerah ini telah bermukim sebanyak delapan Kepala Keluarga (KK) etnis China (Cung Kuo Jen), 40 warga etnis China (Chi Au Sen), dan sejumlah keturunan dari keturunan etnis China (Chi Au Sen Se Pat Tay), memiliki aktifitas berdagang emas dan hasil bumi. Mereka rata-rata memiliki keterampilan pandai emas (tukang emas yang membuat perhiasan), selain pedagang hasil bumi. Sedangkan penduduk lainnya adalah petani kebun yang makmur.

Jika perjalanan kehidupan penduduk ini kita lihat dari kilas balik (Flash back) sejarah negeri Bengkulu, maka bangsa China telah datang kenegeri ini sejak tahun 225-216 sebelum Masehi (sM) atau 147–138 Caka) yang berasal dari negeri Hyunan (China daratan).

Mereka inilah yang pertama kali mendirikan negeri bernama Lu-Shiangshe yang berarti sungai kejayaan atau sungai yang memberi kehidupan / harapan atau sungai emas. Sedangkan penduduknya, mereka menyebut diri dengan sebutan Rha-hyang atau Ra-Hyang atau Re-Hyang atau Re-jang.

Kata Lu-Shiangshe ini selanjutnya berubah menjadi Lusang (Sungai Lusang?), sebagaimana juga kata Fort Marlborough berubah menjadi Malabero, dan di Jokya kata ini berubah menjadi Malioboro. Evolusi bahasa seperti ini di Bengkulu sangat banyak, termasuk kata Cat Twon menjadi Ketahun, dan Bin to Nine menjadi Bintunan, dan kata Bin to Hand menjadi Bintuhan.

Sebelum pendatang ini tiba (225-216 sM atau 147-138 Caka) di Bengkulu (Wilayah Bengkulu Utara), memang telah ada penduduk Re-jang yang menghuni di sekitar daerah Lais, Bintunan dan Ketahun. Sedangkan pendatang baru, nampaknya merupakan generasi penerus dari penambang yang tiba lebih awal pada abad ke- III sebelum Masehi (sM)..
Suatu hal yang menarik adalah ditemukannya mata uang China yang bertuliskan Chien Ma berangka tahun 421 Masehi di Bengkulu Utara (Pulau Enggano). Mata uang yang sama juga ditemukan di Criviyaya atau Criwiyaya (Baca: Palembang) dan di Tarumanagara (Baca : Jakarta).

Dari kata CHIEN MA inilah muncul kata Cha-Chien (Caci = uang dalam bahasa Rejang), Mo-Chien (Monce = uang dalam bahasa Bengkulu kota), Tha-Chien (Tanci = uang dalam bahasa Manna). Seorang bhiksu China bernama Fa-Hien atau Pa-Shien tiba di Nusantara pada tahun 414 Masehi dalam rangka kunjungannya ke negeri seribu pagoda India, dia singgah di- Criviyaya (Sriwiyaya) Palembang dan Tarumanagara (Jakarta).

Fa-Hien ini juga menceritakan tentang adanya pulau khayal, karena dia pernah transit (singah) di Pulau Enggano (Bengkulu Utara), Maladewa Srilangka dalam perjalanannya menuju India. Sebagai mana hal yang sama juga diceritakan Tome Pires dalam buku “Suma Oriental” ditulis pada tahun 1515, dan Pigafetta 1521 menyebutkan pulau Enggano dengan kata OCOLORE (Pulau yang dihuni oleh wanita-wanita saja).

Jika ditelaah dari kata Enggano maka kata ini diambil dari bahasa Mon (Hyunan China daratan) artinya rusa bertanduk. Ini menunjukkan bahwa wanita dipulau itu berdandan rambut berkepang (Sanggul) dua yang menonjol keatas, sebagai mana juga menjadi trend pada wanita China pada masa itu.

Sumber lain menyebutkan wanita-wanita dari Maladewa (Srilangka) juga banyak tinggal atau menjadi budak disana. Tentunya kita tidak tau persisnya bagai mana, namun cerita pulau Enggano sempat mendunia menjadi pulau Khayal. Ada pula yang melukiskan sebagai kerajaan yang hanya diperintah dan dihuni oleh wanita-wanita saja.

Kedatangan etnis India tahun 264-232 sM, dan etnis China tahun 225-216 sM ke Nusantara (Pha-mnalayu) khususnya ke Bengkulu dan Banten (termasuk Jakarta), telah membuat goresan sejarah tersendiri pada masyarakat Bengkulu. Etnis China ini datang ke Nusantara (Pha-mnalayu) secara bergelombang, bersama dengan datangnya etnis India, mereka datang dan menyebar dari Lu-Shiangshe (Baca: Bengkulu), ke-negeri Phalimbam (Baca : Banten), negeri Da-ayak (Kalimantan, dan negeri Pone (baca : Sulawesi).

Selanjutnya berasimilasi dengan penduduk asli dan pendatang lainnya, hingga saat ini.
Jika diperhatikan gelar yang diberikan masyarakat Bintunan kepada Pasirah Mardjati alias Ratu Samban, maka gelar ini jelas-jelas berbau bahasa China. Karena kata Sam berarti tiga (3), sedangkan Ban berarti Cheban atau sepuluh ribu (10.000).

Dengan demikian gelar kata RATU SAMBAN berarti; Ratu = Raja atau orang yang sangat dihormati, Samban = tiga puluh ribu. Gelar yang disandangnya ini secara jelas menunjukkan jasa pengorbanan yang diberikan Marjati kepada rakyat Bengkulu Utara, sesuai dengan beban pajak yang akan dipungut kolonial Belanda sebesar 30.000 Golden.

Iklan