Pikiranku ini terfokus pada sistem sebuah pembangunan jalan raya yang kerap kali membuat jengkel. bayangin aja jalan-jalan yang tahun kemarin baru saja halus diaspal dan dibeton, ternyata sudah kembali rusak, contohnya di Jl.Baru bogor(soleh iskandar), walaupun jalan sudah dibeton dan dicor berkali-kali tapi selalu saja berlubang. http://www.4shared.com/photo/cCXyMSPe/IMG1743A.html

Ada banyak hal penentu sebuah jalan bisa rusak, dan memang sebuah jalan, terutama jalan raya memang ada masa pakainya. sebagai pengetahuan saja, menurut sepupu gw yg mempelajari ilmu Jalan raya di salah satu institusi berkewenangan. semua aturan dan tatatertib penyelenggaraan pembangunan jalan raya, proses pembangunan dan pemeliharaannya sudah diatur lengkap oleh undang-undang. jadi gak ada cerita kalo seorang tewas dalam perjalanan gara-gara kendaraannya terbentur lubang di jalan.

Sebuah jalan raya yang memenuhi syarat layak diantaranya, harus memiliki kemiringan 15 derajat kearah bahu jalan, untuk mengalirkan air hujan kepinggir jalan, artinya ga mungkin lo kecipratan becek waktu sebuah mobil menyalib kendaraan lo. selain itu, setelah proses pembangunan dan penyelesaian pembangunan jalan, ada proses pengecekan yang dilakukan oleh pihak pemerintah terhadap pihak kontraktor saat pembangunan jalan telah selesai dilaksanakan. pengecekan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel jalan yang sudah dibangun, setebal beberapa inchi hingga permukaan tanah. gw yakin yang ambil sampel punya pedang terkuat didunia supaya bisa membelah jalan..:D

Yaah yang jelas, untuk membangun sebuah jalan sudah ada hitungannya cuy… jalan yang baik, sudah diukur ketahanan bobotnya, diameter ketahanannya, ketahanan suhu jalannya, dll jadi gak gampang buat membangun sebuah jalan raya.

Nah pertanyaannya sekarang, dengan banyaknya perhitungan dan pertimbangan serta pengecekan, tapi koq masi ada ajah jalan yang berlubang, dan sudah berkali-kali ditambal.

Memang dalam hal ini banyak sekali pihak yang dilibatkan, yaah seperti kasus MARKUS, seperti mengurai benang kusut, ditarik satu benang, malah seuntal benang yang kena tarik. artinya menarik permasalahan kecil, malah masalah yang semakin besar yang keluar dan pada akhirnya masalah tersebut dilupakan karena memusingkan banyak pihak. tapi tidak ada kebaikan sejati yang tidak dimulai dengan keburukan. kita harus mulai berubah, bila mengetahui hal yang kita lakukan adalah keburukan.

oleh karena itu, gw selaku warga negara dan masyarakat yang merasa ingin merubah keadaan yang begitu-bagitu saja, tanpa ada yang peduli. dengan kesempatan, kemampuan dan kemauan gw.. yaah rencananya siy dengan cara mewujudkannya dalam karya tulis gw, karena gw merasa ada banyak hal yang gw rasa yaitu:

  • skripsi/karya tulis merupakan alat bagi mahasiswa untuk dapat membangun dan merubah bangsanya, jadi kita harus mengerjakannya dengan sebaik baiknya
  • skripsi/karya tulis merupakan puncak karya dan pembuktian tentang kemampuan yang dimiliki seorang mahasiswa, sejauh mana tulisannya dapat berefek
  • data yang berisi masalah dan informasi penting tentang hal yang mau gw bahas itu susah didapat, seperti data kecelakaan POLRI. yah mungkin karena hal ini juga, banyak teman-teman mahasiswa lainnya yang menyerah dan mengambil hal yang gak neko-neko untuk tulisannya.. padahal mereka memiliki keinginan tapi tidak punya kesempatan bereksplorasi
  • tentang jalan; kemampuan kelas pengguna jalan harus sesuai, karena faktor perusak jalan itu ada empat : struktur geometri, alam, kelas jalan, dan material bahan jalan
  • tentang jalan; pembangunan jalan tidak memperhatikan keadaan lingkungan
  • tentang jalan; banyaknya kecurangan dalam kegiatan pembangunan proyek
  • tentang jalan; masalahnya ga bakalan beres tanpa kordinasi, kerjasama dan kesungguhan semua pihak
  • tentang jalan; analisa solusi penanganan permasalahan menurut gw adalah dengan membuat sebuah sistem monitoring pembangunan proyek dengan report yang real time

tapi ini semua cuma bualan2 gw ajah, bagi yang merasa tersinggung mohon jgn marah…

Iklan