Bunuh diri adalah kehormatan

Entah bagai mana budaya ini bisa sangat diagungkan dijepang, tapi seppuku atau yang sering kita kenal dengan harakiri menjadi jalan keluar dari permasalahan dunia karena malu dengan menghilangkan nyawa. sungguh aneh bila dinilai secara logis. misalnya saat seorang sekertaris politik yang gagal mengantarkan calon walikota menjadi pilihan, karena kegagalannya membuat malu sang calon walikota, maka sang sekertaris melakukan harakiri.

Sungguh merupakan kebodohan, bila seseorang harus menghilangkan nyawa dikarenakan sebuah kegagalan atau rasa malu. padahal banyak ahli psikologi, filsuf dan ahli lainnya mengatakan bahwa kegagalan adalah saat dimana kita dapat memperbaiki diri, dan menjadi tolok ukur untuk meraih kemajuan. bila diambil sisi positif kekalahan calon walikota tadi, tentunya walikota dan sekertarisnya dapat mengevaluasi, dimana letak kesalahannya, dan bagaimana mengatasinya. sehingga pada kesempatan lain, mereka bisa memenangkan pemilihan berikutnya
Hwhwhw… jadi anti bin kontra gw ama yg namanya harakiri. inget film iwo jima, yang bercerita tentang tentara jepang di perang dunia ke II, yang tidak sanggup melawan tentara sekutu. pasukan jepang yang mundur ke markasnya, karena merasa putus asa maka mereka melakukan harakiri. Banzaai… teriak pasukan tersebut, lalu darah tersembur dan usus terburai dari perut-perut pasukan tersebut. menulisnya aja udah membuat bulu leher berdiri.

Bila kita ikuti sejarahnya, Seppuku istilah bahasa resmi Jepang untuk ritual bunuh diri atau Hara-kiri sebagai bahasa umumnya. Hal tersebut berkembang sebagai suatu bagian utuh dari etika bushido (samurai) dan disiplin golongan prajurit samurai. Hara-kiri, yang sebenarnya berarti “mengoyak perut” secara khusus merupakan sebuah metode bunuh-diri yang menyakitkan, dan menjadi hal utama bagi samurai sebagai seorang golongan prajurit(kasta terbaik jepang).

Buat lebih jelasnya, gimana ritual bunuh diri ini berlangsung gw mau ceritain beberapa detailnya yg gw peroleh dari sumber yang pernah gw baca di victorian.fortunecity.com.

Seppuku(harakiri) yang resmi dilakukan oleh paling sedikit oleh dua orang yaitu pelaku seppuku dan asisten pembunuh yaitu seorang Kaishakunin, atau “orang kedua” yang bertugas untuk membunuh anda dengan sebuah pedang yang tajam setelah mengikuti tanda dari pelaku seppuku. dan khaishakunin ini telah terlatih dengan menguasai pemotongan “daki-kubi” sehingga kepala pelaku tidak terlepas dari tubuh tapi tersisa sedikit kulit penutup…..

Pelaku seppuku harus menggunakan kimono yang longgar. Segera ketika nampan Sambo dengan pisau ditempatkan, pelaku membuka kimononya sebagian, lalu maju kedepan, lalu menarik nampan lebih maju, mengambil pisau tersebut dan mulai mengoyak perutnya dari kiri ke kanan.

Disaat terakhir pelaku seppuku dihidangkan tiga potong acar dengan sebuah sumpit anise (digunakan untuk memberikan catatan kematian) lalu meneguk air terakhir.

Cangkirnya akan diisi dalam dua kali tuangan, pelaku harus menghabiskannya dalam dua kali hirupan. kenapa bukan tiga, “Tiga” diambil untuk menyatakan pengulangan secara tidak langsung, dan dua menunjukkan – bukan pengulangan (genap) – menurut mereka 2×2 sama dengan 4, atau dalam bahasanya yaitu shi, yang dapat dibaca sebagai “kematian”.

Tradisi bunuh diri ini masih ada hingga sekarang, walaupun diakhir era tokugawa, tradisi seppuku ini dilarang keras oleh pemerintah jepang.

Buat temen-temen yang membaca tulisan ini, don’t try this at home. kesalahan yang telah kita lakukan dapat kita perbaiki koq, jangan terlalu larut dalam kekecewaan. tetap semangat memperbaiki diri. merdeka!!

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: