PEMBANGUNAN EKONOMI MALAYSIA

Oleh: Roisah Nurul Jannah [0700657]

Dewasa ini kehidupan ekonomi telah menjadi standar kehidupan individu dan kolektif suatu negara-bangsa. Keunggulan suatu negara diukur berdasarkan tingkat kemajuan ekonominya. Ukuran derajat keberhasilan menjadi sangat materialistik. Oleh karena itu, ilmu ekonomi menjadi amat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Namun demikian, pakar ilmu ekonomi sekaliber Masrhal menyatakan bahwa kehidupan dunia ini dikendalikan oleh dua kekuatan besar; ekonomi dan keimanan (agama), hanya saja kekuatan ekonomi lebih kuat pengaruhnya daripada agama. Demikian juga peradaban Islam yang gemilang di masa silam tidak mungkin terwujud tanpa dukungan kekuatan ekonomi dan ilmu ekonominya. Kini kita perlu menggabungkan dua kekuatan kehidupan manusia sebagaimana dinyatakan Marshall untuk disatukan dalam apa yang kita sebut membangun pemikiran dan disiplin ekonomi Islam dalam kerangka kerja pembangunan sosial budaya dan politik.
Dilihat dari perspektif sejarah Malaysia, penjajah Inggris menggalakkan perkembangan masyarakat secara ‘plural’ melalui diberlakukannya pemecahan dan perintah Pihak Inggris yang menggalakkan kedatangan tenaga buruh dari Negara China dan India untuk kepentingan ekonomi penjajah dalam sektor penambangan bijih timah, perdagangan dan pertanian.
Sistem ekonomi di Malaysia pada abad ke-19 sampai tahun 1963 dapat dikategorikan pada 2 bentuk yang utama yaitu sistem ekonomi Sara Diri dan sistem ekonomi Komersil. Bentuk dan kegiatan ekonomi ini dipengaruhi oleh sistem pemerintahan pada masa dahulu. Sebagai contoh, rakyat biasa menjadi petani dan pedagang.
Ekonomi Sara Diri ialah kegiatan ekonomi yang bertujuan atau sekadar mampu untuk menampung keperluan harian keluarga. Artinya, hasil kegiatan ekonomi akan digunakan untuk masing-masing keluarga Malaysia. Segala hak milik yang dapat dijual, hasil penjualannya akan digunakan untuk membeli barang keperluan yang lain yang juga menjadi kebutuhan harian seperti pakaian dan sebagainya. Kegiatan ekonomi Sara Diri yang utama ialah bercocok tanam, menangkap ikan dan menjual hasil hutan. Kegiatan seperti ini tidak memerlukan penggunaan modal yang banyak.
Sistem ekonomi Komersil berlaku di Tanah Melayu setelah kehadiran penjajah Inggris pada abad ke-19. Kehadiran penjajah telah memberlakukan bentuk ekonomi tersebut memperlihatkan penjajah mengambil cukai dari rakyat, memaksa rakyat mendapatkan uang tunai. Salah satu perkembangan yang nyata semasa itu dapat dilihat dalam sektor perdagangan dan pertambangan.
Setelah mencapai kemerdekaan, Rancangan Malaysia 5 tahun telah diperkenalkan. Rancangan Malaysia Pertama dan Rancangan Malaysia kedua dirancang untuk menitikberatkan kepada segi pertumbuhan dan pembaharuan ekonomi. Rancangan ini telah menunjukkan kelemahan dari segi strategi di mana corak atau sistem semasa penjajahan masih berlaku.
Memasuki tahun 1983 lahir Bank Islam Malaysia Berhard (BIMB). Bank Islam lahir bukan karena adanya kekayaan individual seperti di Timur Tengah. BIMB berkembang karena pemikiran & kreativitas banker Islam dalam menciptakan produk-produk bank berdasar syariah yang mampu berkompetisi dengan bank konvensional sehingga nasabahnya bukan hanya kelompok muslim yang mengharamkan bunga tetapi juga kelompok lain yang rasional.
Ide untuk menubuhkan perbankan Islam di Malaysia bertitik tolak dari pertumbuhan Bank Islam yang pertama di dunia yaitu Dubai Islamic Bank di Dubai, U.A.E dan Bank Pembangunan Islam (IDB) di Arab Saudi pada tahun 1975. Rentetan kemunculan kedua bank tersebut, kelahiran institusi keuangan secara Islam di seluruh dunia berlangsung dengan pesat antara tahun 1976 hingga 1985. Beberapa negara Islam seperti Sudan, Pakistan dan Iran bertindak menukarkan sistem perbankan konvensional kepada sistem perbankan Islam. Dampak dari kemajuan bank-bank Islam di negara-negara tersebut, masyarakat Islam di Malaysia turut mendesak agar pihak kerajaan memberlakukan bank Islam sebagai alternatif dari bank konvensional.
Maka, Setelah mempertimbangkan keinginan dan keperluan masyarakat Islam di Malaysia, pada tahun 1983 pihak kerajaan memeberitakan Akta Bank Islam 1983, Akta Pelaburan Kerajaan 1983, Akta Takaful 1984 dan diikuti dengan pengadaan Bank Islam Malaysia. Sambutan masyarakat Islam dan bukan Islam di Malaysia terhadap perbankan Islam sangat positif sehingga membawa pada pembentukan pasaran keuangan berasaskan prinsip Islam, seperti: Syarikat-Syarikat Takaful, Pasaran Modal Islam, Ekuiti Modal Islam, Pasaran Kewangan Antarabangsa Islam, AIBIM (Association of Islamic Banking Institutions In Malaysia) –BFIM (Islamic Banking and Finance Institute Malaysia).
Bank-bank Islam dikembangkan berdasarkan prinsip yang tidak membolehkan pemisahan antara hal yang temporal (keduniaan) dan keagamaan. Prinsip ini mengharuskan kepatuhan kepada syariah sebagai dasar dari semua aspek kehidupan. Kepatuhan ini tidak hanya dalam hal ibadah ritual, tetapi transaksi bisnis pun harus sesuai dengan ajaran syariah. Sebagai contoh dalam hal ini adalah aspek yang paling terkemuka dari ajaran Islam mengenai muamalah, yaitu pelarangan riba dan persepsi uang sebagai alat tukar dan alat melepaskan kewajiban. Uang bukanlah komoditas. Dengan demikian, uang tidak memiliki nilai waktu, kecuali nilai barang yang ditukar melalui penggunaan uang sesuai dengan syariah.
Sebagai konsekuensi dari prinsip ini maka bank Islam dioperasikan atas dasar konsep bagi untung dan bagi risiko yang sesuai dengan salah satu kaidah Islam, yaitu “keuntungan adalah bagi pihak yang menanggung risiko.” Bank Islam menolak bunga sebagai biaya untuk penggunaan uang dan pinjaman sebagai alat investasi.
Dalam melaksanakan investasinya, bank Islam memberi keyakinan bahwa dana mereka sendiri (equity), serta dana lain yang tersedia untuk investasi, mendatangkan pendapatan yang sesuai dengan syariah dan bermanfaat bagi masyarakat.
Bank Islam menerima dana berdasarkan kontrak mudharabah, yaitu salah satu bentuk kesepakatan antara penyedia dana (pemegang rekening investasi) dan penyedia usaha (bank). Dalam melaksanakan usaha berdasarkan mudharabah, bank menyatakan kemauannya menerima dana untuk diinvestasikan atas nama pemiliknya, membagi keuntungan berdasarkan persentase yang disepakati sebelumnya, serta memberitahukan bahwa kerugian akan ditanggung sepenuhnya oleh penyedia dana selama kerugian tersebut bukan diakibatkan oleh kelalaian atau pelanggaran kontrak.
Dalam hal ini, saya melihat teori modernisasi baru telah mampu menjawab keyakinan teori modernisasi klasik yang menyebutkan bahwa hal-hal tradisional dapat menjadi penghambat dalam proses pembangunan modernisasi suatu Negara. Teori modernisasi klasik sebenarnya, menjurus pada konsep modernitas sebuah Negara menuju modernisasi Barat atau Baratsentris. Bukan mengarahkan pada otonomi modernisasi Negara tertentu. Meninggalkan dan mengganggap hal-hal tradisional bagi penganut teori modernisasi adalah bagian dari sebuah keharusan jika sebuah Negara ingin sampai pada kemajuan yang diakui dunia, termasuk dalam hal ini adalah menghilangkan jati diri atau tradisi sebuah bangsa bukan hanya sebatas hal-hal tradisional atau ritual tapi lebih jauh dari itu adalah pembebasan sebuah Negara dari agama yang diyakini menuju modernisasi secara Barat atau westernisasi yang cenderung pada liberalisasi. Termasuk dalam konteks ini adalah perubahan dan perkembangan dalam sistem ekonomi Malaysia sampai akhirnya mengggunakan sistem ekonomi syari’ah / Islam.
Terbukti bahwa manfaat dari sistem ekonomi Syari’ah tidak hanya dirasakan oleh orang-orang Islam Malaysia saja, tapi banyak dari kalangan non muslim pun yang menggunakan sistem ini dalam kehidupan ekonominya. Ini berarti bahwa konsep agama yang dianggap tradisional ternyata lebih modern, menguntungkan dan tidak memberatkan pihak manapun. Terjawablah bahwa teori modernisasi klasik (menganggap agama termasuk dalam hal tradisional yang harus ditinggalkan dalam teori modernisasi klasik) dalam hal perekonomian Malaysia tidak berlaku dan teori modernisasi baru menjelaskan satu hal yang dianggap tradisional tidak selalu menjadi penghambat kemajuan dari pembangunan sebuah Negara, dalam hal ini: agama. Wallahu’alam bishawwab…

    • siti sonia
    • November 8th, 2010

    Berbicara mengenai perekonomian Malaysia, maka kita akan lebih banyak berbicara mengenai berbagai kemajuan dan modernisasi di sana. Pembangunan infrastruktur serta Indeks pembangunan manusia yang luar biasa, bahkan IPM malaysia menempati peringkat ke- 2 di Asia Tenggara dan peringkat ke-63 di dunia (UNDP, Human Development Report 2007-2008). Kemajuan ini pun terlihat dengan dijadikannya Malaysia sebagai tujuan utama bagi tenaga kerja Indonesia. Jumlah TKI di Malaysia mencapai 2,2 juta dan hanya 1,2 juta yang resmi terdaftar serta 60 persen di antaranya bekerja di sektor informal (Kompas, 25 Juni 2009). Akan tetapi, tetap saja apa yang terlihat hari ini adalah buah dari setiap usaha yang telah dilakukan sebelumnya. Begitu pun Malaysia yang juga pernah berada dalam kondisi ekonomi yang tidak semapan hari ini. Terbukti dengan adanya fakta bahwa sekitar tahun 1970-an banyak orang Malaysia yang berada dalam garis kemiskinan, terutama etnik Melayu. Antara tahun 1967 – 1998 pun perekonomian Malaysia mengalami pasang surut karena masalah-masalah politik dalam negeri dan masalah perekonomian baik Asia maupun dunia.
    Pembangunan dan kemajuan ekonomi Malaysia yang terlihat hari ini merupakan akumulasi dari berbagai kebijakan ekonomi yang Malaysia terapkan. Dari tiap-tiap kebijakan ekonomi yang diberlakukan terdapat kekurangan dan kelebihannya. Seperti telah disebutkan oleh penulis bahwa Malaysia telah memberlakukan beberapa sistem ekonomi mulai dari sistem ekonomi sara diri yang lebih melihat tujuan kegiatan ekonomi sekadar mampu untuk menampung keperluan harian keluarga hingga penerapan sistem ekonomi komersil setelah kehadiran penjajah Inggris di Tanah Melayu tersebut yang ternyata lebih menekankan pada orientasi komersil atau perolehan keuntungan yang diukur dengan mata uang. Kemudian Malaysia membentuk Bank Islam Malaysia Berhard (BIMB) pada tahun 1983.
    Saya sangat setuju dengan penulis bahwa Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh kalangan muslim tapi juga mendapat perhatian khusus dari kalangan non muslim. Sistem perbankannya dalam Bank Syariah tidak hanya menguntungkan salah satu pihak atau merugikan pihak lain tetapi menguntungkan kedua belah pihak (pemilik modal dan nasabah) dan resikonya pun menjadi tanggungan kedua belah pihak. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan bagi banyak orang untuk memilih bank syariah sebagai alternatif solusi daripada bank konvensional. Ekonomi syari’ah yang menekankan keadilan, mengajarkan konsep yang unggul dalam menghadapi gejolak moneter dibanding sistem konvensional. Fakta ini telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global, seperti Rodney Shakespeare (United Kingdom) dan Volker Nienhaus (Jerman).
    Keberhasilan Malaysia mengembangkan Ekonomi Islam secara signifikan dan menjadi teladan dunia Internasional. Negara – negara Eropa seperti Inggris dan Prancis, serta Australia, mendukung pertumbuhan sektor keuangan Syariah. Padahal, di Prancis, misalnya, muncul isu masalah pelarangan cadar. Sedangkan Amerika Serikat yang selama ini diangap sebagai pusat ekonomi dunia masih meragukan kemampuan bank syariah dalam mengatasi permasalahan ekonomi dunia. Amerika Serikat mengkhawatirkan bahwa dengan adanya bank Syariah akan menumbuhkan terorisme Intrnasional karena menganggap bank Syariah sebagai penyokong dana bagi teroris.
    Keberhasilan Malaysia perekonomian syariah tidak lepas dari peran Mahathir dan Anwar Ibrahim yang secara serius mengembangkan ekonomi Islam. Mereka tampil sebagai pelopor kebangkitan ekonomi Islam, dengan kebijakan yang sungguh-sungguh membangun kekuatan ekonomi berdasarkan prinsip syari’ah, bahkan mampu mengangkat ekonomi Malaysia setara dengan Singapura. Mereka bukan saja berhasil membangun perbankan, asuransi, pasar modal, tabungan haji dan lembaga keuagan lainnya secara sistem syari’ah, tetapi juga telah mampu membangun peradaban ekonomi baik mikro maupun makro dengan didasari prinsip nilai-nilai Islami.

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: