Nama : Aam Amaliah Rahmat

NIM   : 0806995

Taiwan menjelang tahun 1960-an mengalami banyak kemajuan terutama di bidang industri. Kurun waktu antara 1949-1952 dipergunakan pemerintah untuk memperbaiki prasarana industri yang rusak berat akibat perang. Pemerintah mencanangkan Rencana Pembangunan Ekonomi Empat Tahun yang berlangsung dari tahun 1953 hingga 1956. Titik beratnya adalah industri yang tidak memerlukan banyak modal serta memanfaatkan kekayaan alam Taiwan sendiri. Rencana pembangunan ekonomi ini dikatakan sukses, kemajuan dicapai dalam setiap cabang industri: alumunium, alkali, tekstil, alat-alat listrik, kulit, kimia, kertas, dan lain sebagainya (Taniputera, History Of China, 2008:605). Taiwan juga disebut sebagai macan Asia, julukan ini diberikan karena perekonomian Taiwan tahun 1970-an dan 80-an naik dari status “kurang berkembang”.

Jika dikaji melalui teori defendensi baru, Taiwan yang pada mulanya dikatakan sebagai negara pinggiran telah mampu mencapai pertumbuhan ekonomi dan kesentosaan politik yang lebih dari sekedar memadai. Dalam perjalanan ekonomi Taiwan tentu saja pernah mengalami titik krisis yaitu awal 1960-an yang cukup menyulitkan. Kecilnya daya serap pasar domestiknya, kebijaksanaan industri substitusi impor Taiwan telah mencapai batas maksimum. Ketika itu Taiwan sesungguhnya belum cukup banyak mengakumulasi modal, devisa, maupun kepercayaan kredit dari pasar keuangan dunia. Demikian pula Taiwan belum sepenuhnya memiliki teknologi yang cukup, sementara di sisi lain Taiwan justru tidak mempunyai persediaan tenaga kerja yang memadai.

Dengan kondisi seperti ini Taiwan terpaksa mengubah arah kebijaksanaan dasarnya, dari negara yang berorientasi ke pasar domestik menjadi negara dengan orientasi pada pasar dunia. Dari sinilah Taiwan melaksanakan kebijaksanaan deregulasi ekonominya bahkan lebih tepat untuk dikatakan sebagai liberalisasi dan internasionalisasi ekonomi. Taiwan melakukan liberalisasi perdagangan dan industri, menyederhanakan nilai tukar mata uang, dan yang lebih penting menciptakan iklim usaha untuk mendorong investasi swasta lokal dan menarik investasi asing. Kebijaksanaan baru ini merupakan sumber dinamika bergerak dan berada di pasar ekstern. Industri tekstil yang merupakan industri unggulan Taiwan sepenuhnya berorientasi pada penyediaan kebutuhan pasar dunia, dan barang-barang yang dihasilkannya lebih sering berdasarkan kontrak yang telah dibuat sebelumnya dengan pembeli asing.

Saat keadaan ekonomi Taiwan mengalami kemunduran, Gold berpendapat bahwa ekonomi Taiwan jadi korban keberhasilannya sendiri. Sifat kelabilan yang melekat pada pelaksanaan kebijaksanaan industrialisasi berorientasi ekspor seakan-akan muncul secara bersamaan. Partner dagang Taiwan melakukan tindakan proteksionisme, sementara di dalam negeri sendiri setelah tiadanya pengangguran dan semakin meningginya biaya hidup menyebabkan terjadinya kenaikan upah buruh dan biaya produksi yang lain. Di pihak lain, telah muncul negara-negara lain yang dengan program industrialisasinya juga telah siap bersaing dengan Taiwan. Kenaikan harga minyak di sekitar tahun 1975 juga membawa persoalan tersendiri.

Dalam situasi kritis ini, para manajer Negara Taiwan telah memiliki sikap untuk selalu memahami dan memanfaatkan situasi ketergantungan dinamis yang telah dan selalu akan dihadapinya. Mereka akan menilai kebutuhan dan kemampuan masyarakatnya dan menghubungkannya dengan sistem ekonomi dunia dengan cara tertentu yang telah mereka persiapkan, yang dengan cara ini mereka mampu mencapai hasil yang selalu lebih baik. Strategi ini dikenal dengan sebutan pendalaman industrialisasi yakni kebijaksanaan yang secara horizontal berusaha melakukan perbaikan semua aspek program industrialisasi untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi, sementara di sisi lain dilakukan integrasi industry secara vertikal.

Usaha pendalaman industry ini Nampak menjanjikan dan akan berhasil dengan baik, karena didukung oleh munculnya satu generasi baru kapitalis, yang lebih terdidik, lebih mandiri, dan lebih memiliki sikap dan pikiran terbuka di banding generasi sebelumnya. Di dukung oleh satu generasi baru teknokrat dan politikus yang liberal dan berpendidikan luar negeri. Semua generasi baru ini diharapkan akan mampu memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang lebih baik di dalam persaingan tiga aliansi pelaku utama ekonomi Taiwan.

Pertengahan tahun 1980-an Taiwan telah mampu melepaskan diri dari persoalan keterbelakangan. Telah banyak investasi yang dibiayai dengan tabungan domestik, sementara negara memiliki cadangan devisa yang berlimpah. Lebih dari itu Taiwan telah mampu mengekspor barang-barang modal, teknologi, dan satu-satuan paket perencanaan pabrik ke negara yang terbelakang. Industri dalam negerinya telah dan semakin terintegrasi secara vertikal maupun horizontal.

 

Iklan