Nama : Rosmawati Lubis

NIM : 0806997

KEADAAN AMERIKA SERIKAT PASCA RUNTUHNYA LEHMAN BROTHERS

Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun yang dibangun oleh Henry Lehman beserta dua saudaranya Emanuel Lehman dan Mayer Lehman. Perusahaan ini bergerak di bidang bank investasi, perdagangan saham dan obligasi, riset pasar , manajemen investasi, ekuitas pribadi, dan layanan perbankan personal.Lehman Brothers adalah pialang utama dalam pasar sekuritas perbendaharaan negara Amerika Serikat. Di antara anak perusahaan yang dimiliki perusahaan ini adalah Lehman Brothers Inc., Neuberger Berman, Aurora Loan Services, SIB Mortgage Corporation, Lehman Brothers Bank, FSB, dan Crossroads group. Kantor pusatnya berada di New York City, dengan kantor regional di London dan Tokyo. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki kantor-kantor cabang di seluruh dunia.. Mengalami kegoyahan yang hebat dipenghujung tahun 2008, dimana hal serupa pernah dialami pada masa Great Depression tahun 1920-an. Dampak dari resesi ekonomi global itu adalah adanya penurunan permintaan ekspor.

Bangkrutnya bank milik Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun terakhir mulai goyah. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar. Sulit membayangkan kalau negara yang mata uangnya menjadi standar perdagangan dunia dan menjadi tolok ukur kekuatan devisa, harus mengemis kepada negara-negara Eropa dan juga Asia agar bisa menyuntikkan dananya kepada kreditor-kreditor raksasa sekelas Merril Lyinch, JP Morgan, AIG,Citigroup, UBS, dan lainnya.

Keadaan ini mengguncang bursa saham di seluruh dunia resesi ekonomi di AS menurut para pakar perekonomian, kemungkinan AS bisa lolos dari resesi ekonomi sangat kecil, di bawah 50 persen, dengan kondisi yang sangat tertekan dimana rumah-rumah masyarakatnya sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilit hutang kartu kredit, AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.

Sikap pemerintah AS yang menolak memberikan kucuran dana buat Lehman menunjukkan bahwa otoritas AS tidak mau menolong perusahaan-perusahaan yang bermasalah ditrambah dengan moralitas para bankir dan pemegang saham. Ketika kondisi sedang bagus, mereka dengan royal memberikan modal pada masyarakat kelas atas, menerima gaji, bonus dan keuntungan yang sangat besar. Tapi ketika kondisi keuangan sedang dilanda krisis, para bankir dan pemegang saham seolah lepas tangan dan membebankan tanggung jawabnya pada pembayar pajak.

Hal ini juga meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Krisis keuangan yang menghantam AS sebenarnya sudah diprediksi. AS yang menganut sistem keuangan neo-liberal secara bebas memberikan kredit. Tiba-tiba, ketika kredit tak tersedia sejak musim panas kemarin, bank-bank mulai kewalahan. Keadaan ini tidak akan terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki sumber minyak seperti di Timur Tengah atau negara-negara yang masyarakatnya memiliki dana simpanan yang besar, seperti di China. Keadaan ini justru terjadi di AS dan Inggris, di mana masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi, jika tidak punya uang lagi, tidak punya pekerjaan dan berpotensi akan kehilangan rumah-rumah mereka. Begitu juga para pensiunan yang mempercayakan uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan di sektor perbankan.

Modernisasi yang disampaikan oleh negara dunia pertama tak ubahnya imperialisme yang mereka lakukan pada waktu lampau. teori imprealisme memberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yang ada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi.

Banyak pengamat yang mengatakan bahwa krisis keuangan global adalah tanda berakhirnya ideologi neoliberalisme. Sehingga, dunia perlu menata kembali peran negara, pasar dan rakyat dalam menciptakan kesejahteraan sosial. Sinergitas antar tiga komponen ini diharapkan bisa membawa perubahan nyata dalam mewujudkan cita-cita kemakmuran suatu bangsa. Neoliberalisme dalam perbendaharaan kata kita, pada intinya adalah sama dengan globalisasi dan perdagangan bebas. Ideologi ini merupakan gerakan pemujaan terhadap pasar yang mempercayai bahwa tidak hanya produksi, distribusi dan konsumsi yang tunduk pada hukum pasar, tetapi seluruh aspek kehidupan. Mekanisme pasar tidak hanya mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga mengatur ekonomi global.

Neoliberalisme adalah bentuk kapitalisme baru yang lebih radikal dan menghancurkan. Ramalan Marx bahwa kapitalisme akan ke luar menembus batas-batas nasional negara, telah tebukti sekarang. Dimana kekuatan pasar saat ini sebegitu dahsyatnya berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi yang seakan menjadi alat pendukung suksesnya kapitalisme menembus negara-negara bangsa. Dengan dukungan canggihnya teknologi komputer dan informasi, proses perdagangan di dunia ini seakan tak mengenal batas negara. Dalam hitungan detik, kegiatan penjualan dan pembelian menjadi sebegitu mudahnya. Kaum kapitalis menganggap bahwa kemajuan seperti inilah yang mereka harapkan, dan ini merupakan ciri kemakmuran global. Dimana semua manusia di muka bumi ini akan sejahtera di bawah naungan ideologi kapitalisme. Liberalisasi tidak selamanya baik kalau penerapannya dilakukan tanpa memahami kekuatan diri sendiri. AS mungkin cocok untuk menerapkan konsep liberalisasi secara maksimal karena fondasi perekonomiannya sangatlah kuat. Singapura juga boleh melakukan liberalisasi dengan meniru cara AS karena memang mereka mampu. Demikian juga dengan negara-negara lain yang GNP dan PDB-nya sudah cukup kokoh.

Menurut Walt W. Rostow, pembangunan ekonomi atau transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi suatu masyarakat modern merupakan proses yang multidimensi. Pembangunan ekonomi bukan saja pada perubahan dalam struktur ekonomi, tetapi juga dalam hal proses yang menyebabkan: perubahan reorientasi organisai ekonomi, perubahan masyarakat, perubahan penanaman modal, dari penanam modal tidak produktif ke penanam modal yang lebih produktif, perubahan cara masyarakat dalam membentuk kedudukan seseorang dalam sistem kekeluargaan  menjadi ditentukan oleh kesanggupan melakukan pekerjaan, perubahan pandangan masyarakat yang pada mulanya berkeyakinan bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh alam.

Sejarah negara-negara maju menunjukkan pola umum perubahan struktural: Tahap 1 : Tradisional Masyarakat :Dicirikan oleh aktivitas ekonomi subsistem yakni output dikonsumsi oleh produsen bukan diperdagangkan, tetapi dikonsumsi oleh mereka yang memproduksinya; perdagangan dengan barter di mana barang-barang yang dipertukarkan mereka ‘bertukar’; Pertanian adalah yang paling penting dan produksi industri padat karya, menggunakan jumlah terbatas modal.

Tahap 2 : Tahap Transisi : Surplus perdagangan muncul didukung oleh infrastruktur transportasi yang muncul. Tabungan dan investasi tumbuh. Pengusaha muncul.

Tahap 3 : Take Off : Industrialisasi meningkat, dengan pengalihan pekerja membentuk tanah untuk manufaktur. Pertumbuhan terkonsentrasi di beberapa daerah di negara dan dalam satu atau dua industri. Baru politik dan lembaga-lembaga sosial yang berevolusi untuk mendukung industrialisasi.

Tahap 4 : Drive untuk Kedewasaan : Pertumbuhan sekarang beragam didukung oleh inovasi teknologi.

Tahap 5 : Massa Konsumsi Tinggi Implikasi dari teori Rostow : Pembangunan memerlukan investasi yang besar dalam peralatan modal; untuk mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang kondisi yang tepat untuk investasi tersebut harus dibuat yaitu kebutuhan ekonomi telah mencapai tahap 2.

Keterbatasan Model Rostow determinan suatu negara tahap pembangunan ekonomi biasanya dilihat dalam pengertian yang lebih luas yaitu tergantung pada: kualitas dan kuantitas sumber daya, teknologi, struktur kelembagaan negara hukum misalnya kontrak. Rostow menjelaskan pengalaman perkembangan negara-negara Barat. Namun, Rostow tidak menjelaskan pengalaman negara-negara dengan berbagai budaya dan tradisi negara-negara Sub-Sahara misalnya yang telah mengalami perkembangan ekonomi kecil. Industrialisasi tidak selamanya mengarah pada perkembangan yang diharapkan. Industrialisasi memerlukan tabungan yang tinggi dari masyarakat. Apabila tabungan rendah [seperti di Negara Sedang berkembang] maka mengandalkan PMA atau pinjaman. Akibatnya industrial tidak membawa hasil yang diharapkan, melainkan terjadi kesenjangan [wilayah dan ekonomi masyarakat] karena industri hanya terkumpul ditempat/kawasan tertentu. Di negara-negara yang mendorong industrialisasi seperti India, Indonesia, Filipina. Korea dan Thailand terlihat bahwa penghasilan penduduk perdesaan cenderung menurun dan lebih rendah dibanding penduduk perkotaan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Deliarnov, 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers
  • Stiglitz, Joseph E. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional. Jakarta: PT. Ina Publikatama