KEADAAN AMERIKA SERIKAT PASCA RUNTUHNYA LEHMAN BROTHERS

Nama : Rosmawati Lubis

NIM : 0806997

KEADAAN AMERIKA SERIKAT PASCA RUNTUHNYA LEHMAN BROTHERS

Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun yang dibangun oleh Henry Lehman beserta dua saudaranya Emanuel Lehman dan Mayer Lehman. Perusahaan ini bergerak di bidang bank investasi, perdagangan saham dan obligasi, riset pasar , manajemen investasi, ekuitas pribadi, dan layanan perbankan personal.Lehman Brothers adalah pialang utama dalam pasar sekuritas perbendaharaan negara Amerika Serikat. Di antara anak perusahaan yang dimiliki perusahaan ini adalah Lehman Brothers Inc., Neuberger Berman, Aurora Loan Services, SIB Mortgage Corporation, Lehman Brothers Bank, FSB, dan Crossroads group. Kantor pusatnya berada di New York City, dengan kantor regional di London dan Tokyo. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki kantor-kantor cabang di seluruh dunia.. Mengalami kegoyahan yang hebat dipenghujung tahun 2008, dimana hal serupa pernah dialami pada masa Great Depression tahun 1920-an. Dampak dari resesi ekonomi global itu adalah adanya penurunan permintaan ekspor.

Bangkrutnya bank milik Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun terakhir mulai goyah. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar. Sulit membayangkan kalau negara yang mata uangnya menjadi standar perdagangan dunia dan menjadi tolok ukur kekuatan devisa, harus mengemis kepada negara-negara Eropa dan juga Asia agar bisa menyuntikkan dananya kepada kreditor-kreditor raksasa sekelas Merril Lyinch, JP Morgan, AIG,Citigroup, UBS, dan lainnya.

Keadaan ini mengguncang bursa saham di seluruh dunia resesi ekonomi di AS menurut para pakar perekonomian, kemungkinan AS bisa lolos dari resesi ekonomi sangat kecil, di bawah 50 persen, dengan kondisi yang sangat tertekan dimana rumah-rumah masyarakatnya sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilit hutang kartu kredit, AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.

Sikap pemerintah AS yang menolak memberikan kucuran dana buat Lehman menunjukkan bahwa otoritas AS tidak mau menolong perusahaan-perusahaan yang bermasalah ditrambah dengan moralitas para bankir dan pemegang saham. Ketika kondisi sedang bagus, mereka dengan royal memberikan modal pada masyarakat kelas atas, menerima gaji, bonus dan keuntungan yang sangat besar. Tapi ketika kondisi keuangan sedang dilanda krisis, para bankir dan pemegang saham seolah lepas tangan dan membebankan tanggung jawabnya pada pembayar pajak.

Hal ini juga meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Krisis keuangan yang menghantam AS sebenarnya sudah diprediksi. AS yang menganut sistem keuangan neo-liberal secara bebas memberikan kredit. Tiba-tiba, ketika kredit tak tersedia sejak musim panas kemarin, bank-bank mulai kewalahan. Keadaan ini tidak akan terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki sumber minyak seperti di Timur Tengah atau negara-negara yang masyarakatnya memiliki dana simpanan yang besar, seperti di China. Keadaan ini justru terjadi di AS dan Inggris, di mana masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi, jika tidak punya uang lagi, tidak punya pekerjaan dan berpotensi akan kehilangan rumah-rumah mereka. Begitu juga para pensiunan yang mempercayakan uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan di sektor perbankan.

Modernisasi yang disampaikan oleh negara dunia pertama tak ubahnya imperialisme yang mereka lakukan pada waktu lampau. teori imprealisme memberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yang ada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi.

Banyak pengamat yang mengatakan bahwa krisis keuangan global adalah tanda berakhirnya ideologi neoliberalisme. Sehingga, dunia perlu menata kembali peran negara, pasar dan rakyat dalam menciptakan kesejahteraan sosial. Sinergitas antar tiga komponen ini diharapkan bisa membawa perubahan nyata dalam mewujudkan cita-cita kemakmuran suatu bangsa. Neoliberalisme dalam perbendaharaan kata kita, pada intinya adalah sama dengan globalisasi dan perdagangan bebas. Ideologi ini merupakan gerakan pemujaan terhadap pasar yang mempercayai bahwa tidak hanya produksi, distribusi dan konsumsi yang tunduk pada hukum pasar, tetapi seluruh aspek kehidupan. Mekanisme pasar tidak hanya mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga mengatur ekonomi global.

Neoliberalisme adalah bentuk kapitalisme baru yang lebih radikal dan menghancurkan. Ramalan Marx bahwa kapitalisme akan ke luar menembus batas-batas nasional negara, telah tebukti sekarang. Dimana kekuatan pasar saat ini sebegitu dahsyatnya berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi yang seakan menjadi alat pendukung suksesnya kapitalisme menembus negara-negara bangsa. Dengan dukungan canggihnya teknologi komputer dan informasi, proses perdagangan di dunia ini seakan tak mengenal batas negara. Dalam hitungan detik, kegiatan penjualan dan pembelian menjadi sebegitu mudahnya. Kaum kapitalis menganggap bahwa kemajuan seperti inilah yang mereka harapkan, dan ini merupakan ciri kemakmuran global. Dimana semua manusia di muka bumi ini akan sejahtera di bawah naungan ideologi kapitalisme. Liberalisasi tidak selamanya baik kalau penerapannya dilakukan tanpa memahami kekuatan diri sendiri. AS mungkin cocok untuk menerapkan konsep liberalisasi secara maksimal karena fondasi perekonomiannya sangatlah kuat. Singapura juga boleh melakukan liberalisasi dengan meniru cara AS karena memang mereka mampu. Demikian juga dengan negara-negara lain yang GNP dan PDB-nya sudah cukup kokoh.

Menurut Walt W. Rostow, pembangunan ekonomi atau transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi suatu masyarakat modern merupakan proses yang multidimensi. Pembangunan ekonomi bukan saja pada perubahan dalam struktur ekonomi, tetapi juga dalam hal proses yang menyebabkan: perubahan reorientasi organisai ekonomi, perubahan masyarakat, perubahan penanaman modal, dari penanam modal tidak produktif ke penanam modal yang lebih produktif, perubahan cara masyarakat dalam membentuk kedudukan seseorang dalam sistem kekeluargaan  menjadi ditentukan oleh kesanggupan melakukan pekerjaan, perubahan pandangan masyarakat yang pada mulanya berkeyakinan bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh alam.

Sejarah negara-negara maju menunjukkan pola umum perubahan struktural: Tahap 1 : Tradisional Masyarakat :Dicirikan oleh aktivitas ekonomi subsistem yakni output dikonsumsi oleh produsen bukan diperdagangkan, tetapi dikonsumsi oleh mereka yang memproduksinya; perdagangan dengan barter di mana barang-barang yang dipertukarkan mereka ‘bertukar’; Pertanian adalah yang paling penting dan produksi industri padat karya, menggunakan jumlah terbatas modal.

Tahap 2 : Tahap Transisi : Surplus perdagangan muncul didukung oleh infrastruktur transportasi yang muncul. Tabungan dan investasi tumbuh. Pengusaha muncul.

Tahap 3 : Take Off : Industrialisasi meningkat, dengan pengalihan pekerja membentuk tanah untuk manufaktur. Pertumbuhan terkonsentrasi di beberapa daerah di negara dan dalam satu atau dua industri. Baru politik dan lembaga-lembaga sosial yang berevolusi untuk mendukung industrialisasi.

Tahap 4 : Drive untuk Kedewasaan : Pertumbuhan sekarang beragam didukung oleh inovasi teknologi.

Tahap 5 : Massa Konsumsi Tinggi Implikasi dari teori Rostow : Pembangunan memerlukan investasi yang besar dalam peralatan modal; untuk mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang kondisi yang tepat untuk investasi tersebut harus dibuat yaitu kebutuhan ekonomi telah mencapai tahap 2.

Keterbatasan Model Rostow determinan suatu negara tahap pembangunan ekonomi biasanya dilihat dalam pengertian yang lebih luas yaitu tergantung pada: kualitas dan kuantitas sumber daya, teknologi, struktur kelembagaan negara hukum misalnya kontrak. Rostow menjelaskan pengalaman perkembangan negara-negara Barat. Namun, Rostow tidak menjelaskan pengalaman negara-negara dengan berbagai budaya dan tradisi negara-negara Sub-Sahara misalnya yang telah mengalami perkembangan ekonomi kecil. Industrialisasi tidak selamanya mengarah pada perkembangan yang diharapkan. Industrialisasi memerlukan tabungan yang tinggi dari masyarakat. Apabila tabungan rendah [seperti di Negara Sedang berkembang] maka mengandalkan PMA atau pinjaman. Akibatnya industrial tidak membawa hasil yang diharapkan, melainkan terjadi kesenjangan [wilayah dan ekonomi masyarakat] karena industri hanya terkumpul ditempat/kawasan tertentu. Di negara-negara yang mendorong industrialisasi seperti India, Indonesia, Filipina. Korea dan Thailand terlihat bahwa penghasilan penduduk perdesaan cenderung menurun dan lebih rendah dibanding penduduk perkotaan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Deliarnov, 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers
  • Stiglitz, Joseph E. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional. Jakarta: PT. Ina Publikatama
About these ads
    • Desi Puji Lestari S (0807000)
    • November 8th, 2010

    Saya setuju dengan tulisan diatas, Amerika Serikat yang menjadi negara adidaya pun goyah saat krisis melanda. Krisis keuanagan yang ditandai oleh bengkrutnya perusahaan jasa properti seperti Lehmnan Brothers. Amerika serikat yang menganut sistem ekonomi neo-liberalisme akhirnya goyah saat para pemegang saham pun dengan kompak menarik sahamnya keluar dari perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat. Membuat Amerika yang mengandalkan system pinjaman dari para nasabah bingung untuk mencari sumber dana segar.
    Teori pembangunan Rostow yang memang cocok untuk diterapkan dinegara maju sekelas Amerika Serikat, membuat Negara ini mampu lepas landas. Karena telah menjalani tahapan-tahapan dalam pertumbuhan ekonomi. Teori lepas landas atau the stage of economy growth telah terjadi karena Amerika Serikat telah memiliki syarat untuk lepas landas seperti yang diungkapkan oleh Sarbini:
    1. Perkembangan investasi minimal 10 % dari pendapatan nasional
    2. Pendapatan nasional minimal 5 % lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan penduduk
    Amerika Serikat pun mampu menjadi Negara yang l;epas landas, dan menerapakan suatu bentuk imperialisme baru. Teori imprealisme memberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yang ada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi.
    Namun, imperialisme yang sedang diberlakukan oleh Amerika Serikat akhirnya goyah saat perusahaan sebesar Lehman Brothers goyah. Terbukti keadaan Amerika tidak selamanya menjadi Negara adidaya, saat ini kedudukan Amerika Serikat terancam akan diganti oleh Negara-negara yang mengalami stabilitas ekonomi pasca runtuhnya Lehman brothers, seperti India, Indonesia dan Cina. Dimana perekonomian Negara-negara tersebut sedang berusaha menguasai dunia.

    • aminclick
    • November 8th, 2010

    NAMA : DESI PUJI LESTARI S
    NIM : 0807000

    Saya setuju dengan tulisan diatas, Amerika Serikat yang menjadi negara adidaya pun goyah saat krisis melanda. Krisis keuanagan yang ditandai oleh bengkrutnya perusahaan jasa properti seperti Lehmnan Brothers. Amerika serikat yang menganut sistem ekonomi neo-liberalisme akhirnya goyah saat para pemegang saham pun dengan kompak menarik sahamnya keluar dari perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat. Membuat Amerika yang mengandalkan system pinjaman dari para nasabah bingung untuk mencari sumber dana segar.
    Teori pembangunan Rostow yang memang cocok untuk diterapkan dinegara maju sekelas Amerika Serikat, membuat Negara ini mampu lepas landas. Karena telah menjalani tahapan-tahapan dalam pertumbuhan ekonomi. Teori lepas landas atau the stage of economy growth telah terjadi karena Amerika Serikat telah memiliki syarat untuk lepas landas seperti yang diungkapkan oleh Sarbini:
    1. Perkembangan investasi minimal 10 % dari pendapatan nasional
    2. Pendapatan nasional minimal 5 % lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan penduduk
    Amerika Serikat pun mampu menjadi Negara yang l;epas landas, dan menerapakan suatu bentuk imperialisme baru. Teori imprealisme memberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yang ada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi.
    Namun, imperialisme yang sedang diberlakukan oleh Amerika Serikat akhirnya goyah saat perusahaan sebesar Lehman Brothers goyah. Terbukti keadaan Amerika tidak selamanya menjadi Negara adidaya, saat ini kedudukan Amerika Serikat terancam akan diganti oleh Negara-negara yang mengalami stabilitas ekonomi pasca runtuhnya Lehman brothers, seperti India, Indonesia dan Cina. Dimana perekonomian Negara-negara tersebut sedang berusaha menguasai dunia.

    • dharyanto tito wardani (0703947)
    • November 20th, 2010

    oleh : dharyanto tito wardani
    : 0703947
    Pentingnya sebuah perubahan sosial ketika suatu teori pembangunan dan konsep Neoliberalisme yang tadinya mitos menjadi teruji dan perlu pendikusian yang agak panjang. Maka sebuah harapan dari perubahan sosial yang dilandasi oleh teori pembangunan menjadi sebuah diskursus mengenai sebuah dunia alternatif yang digembar-gemborkan oleh Forum Sosial Dunia (FSD).
    Forum Sosial Dunia adalah sebuah wadah yang menamai dirinya sebagai gerakan kiri baru perlu dipahami oleh khalayak orang agar tidak dipandang sebelah mata karena perjuangan-perjuangan nya yang dinilai tidak rasional atau utopia ini justru mengedepankan pada suatu tatanan dunia baru, dunia yang adil dan selaras. Forum Sosial Dunia disini mempunyai sebuah konsep dan slogan yang berbunyi dunia lain adalah mungkin, dengan menentang kebijakan-kebijakan yang berbau Neoliberalisme, seperti kebijakan WTO, IBRD, dan lainnya, yang dinilai sangat menindas rakyat didunia ketiga atau Negara berkembang seperti Indonesia.
    Pada awalnya Neoliberalisme hanyalah sebuah gagasan dari beberapa pemikir ekonom kapitalisme yang selalu mengadakan pertemuan di Swiss dan berkompromi tentang sesuatu tatanan dunia baru yang tanpa batas, dan akhirnya proses ekonomi liberal ini memakai jubah baru nya yang bernama Neoliberalisme dengan tiga doktrinnya yang terkenal yaitu: Liberalisasi, Privatisasi, dan Deregulasi. Tentulah ekonomi yang menuju tanpa tapal batas ini mengangkangi negara dan membuat sorak sorai perusahan kapitalis yang merana didalam negeri dan sekarang bisa bebas berkecimpung didunia pasar bebas tanpa batas, maka sungguhlah model Neoliberalisme ini sudah menjadi suatu monster jahat yang akan mengancam negara dan rakyat didunia, karena hal ini hanya akan menguntungkan segelintir pihak saja dengan sebuah konsep olgarki demokrasi. Sebuah tatanan dunia baru yang mereka kehendaki kini telah menjadi sebuah teror global dan Neoliberlisme menjadi kendaraan raksasa mereka untuk suatu proyek besar yaitu Globalisasi.
    Globalisasi pun terus berkembang dan membesar seolah menjadi sosok yang berada didua arah yang berbeda, berwajah mulus dan bermuka bopeng, menjadi idaman dan menjadi malapetaka, namun sayangnya hanya segelintir orang saja yang memperlihatkan wajah globalisasi dalam bentuk yang mulus, yakni para penguasa dunia dan penganut kapitalisme tata dunia yang berjalan tanpa aturan Negara dan berlarut-larut meninggalkan negara kesejahteraan ala Keynesian dan wajah Globalisasi dalam bentuk bopeng dan sangat menakutkan itu kepada rakyat jelata, petani dan buruh yang sering dieksploitasi kepentingannya dan selalu diperlakukan seenaknya hingga semua menjadi tak terkendali dan monster ini membuas, maka dari itu haruslah ada suatu perlawanan yang terus menerus dilakukan oleh pihak yang tertindas karena hal ini dirasakan hampir sebagian umat manusia didunia, bukan para penguasa dunia saja yang hanya ada segelintir orang saja.
    Timbul sebuah pergerakan baru, gerakan rakyat yang menentang proyek-proyek Globlisasi dan pasar bebas, dan para aktivis dan intelektual yang banyak nya berasal dari Negara berkembang seperti Argentina dan Brazil ikut merapatkan barisan untuk menolak Globalisasi dan pasar bebas ini, sesungguuhnya gerakan penolakan oleh rakyat ini adalah kesadaran umum yang sedang bangkit saat ini. Gerakan itu bernama Gerakan Sosial Baru telah memperlihat kan pada suatu kondisi yang dianggap sangat penting dan layak untuk dilaksanakan, apakah itu? Yaitu sebuah penolakan terhadap pasar bebas dan globalisasi yang dilakukan oleh ideologi yang dinilai sangat berbahaya bagi umat manusia yaitu Neoliberalisme dan Globalisasi yang dimotori oleh berbagai organisasi dunia seperi IMF (International Monetary Fund), WTO (World Trade Organization), dan IBRD (International Bank Reconstruction and Development) atau yang lebih kita kenal dengan nama World Bank yang dinilai sangat merugikan umat manusia, proyek-proyek neoliberalisme: privatisasi dimana-mana, yang menjual aset-aset negara kepada pemilik asing (The Institut For Global Justice:2005).
    Gerakan Sosial baru pun tidak sepenuhnya berkonsentrasi pada permasalahan global di bidang ekonomi saja, dalam hal ini sudah banyak proses liberalisasi yang dilaksanakan diberbagai sektor, seperti perdagangan, keuangan, hingga dibidang pertanian pun ikut merasakan akibat dari proyek-proyek neoliberalisme, neoliberalisme kini sudah seperti menjadi monster-monster yang teramat jahat dan proses-prosesnya seperti penjualan aset-aset publik atas nama efisiensi anggaran negara, pemotongan subsidi-subsidi yang vital untuk rakyat yang mengatasnamakan kemandirian rakyat, dan kebutuhan pengalihan uang negara ke pembayaran hutang. Dampak dari proyek neoliberalisme semakin nyata dalam prosesnya menuju ke globalisasi korporasi dan pasar bebas yang sangat menekan rakyat khususnya didunia berkembang seperti di Asia, Afrika dan Amerika Latin, maka sebuah dunia lain adalah mungkin menawarkan sebuah suara yang tidak pernah didengar oleh petinggi-petinggi negara.
    Dalam sebuah pertemuan dikota Davos tempat mewah wisata sky di Swiss, ada sebuah forum pertemuan yang menamakan dirinya Forum Ekonomi Dunia, forum tersebut telah eksis selama 20 tahun dan para pemilik dunia selalu datang secara rutin. Setiap tahun, siapapun yang mampu membayar US$ 20.000 dapat ikut berkumpul di sana untuk mendengarkan dan berbicara kepada para pemikir ulung kapitalisme dunia dan pemimpin politiknya (The Institut For Global Justice:2005).
    Agar mendapatkan legitimasi yang lebih objektif Forum Ekonomi Dunia pun mengundang para pengkritik globalisasi. Kediktatoran para pemikir yang bersuara dikota Davos tentu melahirkan sebuah ide penolakan sebagai bentuk penetangan kepada teori-teori ekonomi global yang diwujudkan kedalam praktek, maka sebagian dari aktivis asal Brazil mencetuskan tahap baru perlawanan terhadap Globalisasi, menuju dunia baru dimana ekonomi akan melayani kebutuhan rakyat. Sebuah bentuk perlawanan dari para aktivis ekonom anti Globalisasi tentu menaruh sebuah harapan pada sebuah dunia baru itu maka dengan sadar mereka pun ikut merapatkan barisan dengan cara membuat tandingan untuk Forum Ekonomi Dunia itu dan akhirnya salah satu dari aktivis itu Oded Grajew mengusulkan sebuah pertemuan yang berskala dunia untuk memperbincangkan persoalan-persoalan sosial. Maka ia melibatkan semua Organisasi yang telah membentuk jaringan dalam aksi-aksi massa sebelumnya, pertemuan ini dinamakan Forum Sosial Dunia (FSD), diadakan pada hari sama dengan pertemuan Forum Ekonomi Dunia. (The Institut For Global Justice, 2005:8).
    Forum Sosial Dunia yang menjadi bagian dari Gerakan Sosial baru yang bersemboyan Dunia yang lain adalah mungkin memuat perbedaan paradigma dalam hal teori pembangunan atau teori perubahan sosial dengan Forum Ekonomi Dunia yang mempunyai organisasi-organisasi internasional dengan segala kebijakannya, perbedaan paradigma dalam membuat sebuah tatanan teori pembangunan ini tentu melalui banyak jalan dan mazhab-mazhab tertentu, maka dari itu Forum Sosial Dunia biarlah menjadi Rival setia dengan Forum Ekonomi Dunia.

    Daftar Rujukan

    Deliarnov. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
    Goodman, Douglas J. dan George Ritzer.2008. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana
    Grabel, Ilene dan Ha-Joon Chang.2008. Membongkar Mitos Neolib: Upaya Merebut Kembali Makna Pembangunan. Yogyakarta: INSISTPress
    Justice, Insitut Global.2005. Bukan Sekedar Anti-Globalisasi. Jakarta: WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
    Keegan, Warren J.1996. Manajemen Pemasaran Global Jilid II. Jakarta: Prenhallindo
    Khudori.2004. Neoliberalisme Menumpas Petani. Yogyakarta: Resist Book.
    Mir, Drs. Teuku May Rudy, SH, MA.1993. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung: PT ERESCO
    Mirsel, Robert.2004. Teori Pergerakan Sosial. Yogyakarta: INSISTPress
    Pontoh, Coen Husain.2003. Akhir Globalisasi: Dari Perdebatan Menuju Gerakan Massa. Jakarta: C-BOOKS
    __________________.2005. Malapetaka Demokrasi Pasar. Yogyakarta: Resist Book.
    S.H, Rizawanto Winata dan Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama.1997. Pembaharuan Hukum Merek Indonesia Dalam Rangka WTO, TRIPS 1997. Bandung: P.T. Citra Aditya Bakti
    Sjamsuddin, Helius.2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Omba

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: