Pembangunan Ekonomi Jepang

Oleh Entang Juarsih (0705458)

Pembangunan ekonomi negara Jepang dimulai sejak tahun 1868 saat lahir sebuah polotik penting yang dikenal sebagai pembaharuan “Meiji”. Tapi bukan berarti bahwa Jepang sebelum tahun itu disebut Negara primitive, akan tetapi dalam produksi mesin dan pembaharuan terjadi setelah pembaharuan Meiji.  Perekonomian utama pemerintahan Meiji dalam periode ini ialah terciptanya prasarana Negara ini, dengan membangun jalan kereta api antara Tokyo dan Yokuhama sampai Kobe terselesaikan. Tidak hanya itu pemerintah juga memodernisasi jaringan komunikasi lewat jasa pos dan telegraf.

Dalam periode zaman Tokugawa Jepang merupakan masyarakat yang cukup terpelajar dari budaya dan sastra dengan buku yang berlimpah-limpah, dan salah satunya adalah ajaran dari Kong Hu Cu yang hanya satu-satunya pengajaran yang meluas dalam periode Tokugawa. Dan Jitsugaku (pelajaran praktis) sedangkan perekonomian zaman tokugawa adalah feodal dan mempunyai kemiripan dengan perekonomian pertenggahan Eropa. Sehingga mengambil keputusan pada dasarnya perekonomian subsistem dan bahwa setiap perdangangan sebagian besar dengan sistem barter dan jarang terdapat pengunaan uang. Tapi perekonomian Tokugawa menunjukkan uang dan kredit. Bentuk uang biasanya uang logam sedangkan kredit yang sering digunakan oleh pedagang-pedagang Osaka. Pusat transaksi kredit adalah Ryogaeya, akan tetapi fungsi Ryogaeya tidak hanya melakukan pertukaran uang. Mereka mempunyai fungsi, misalnya: menerima deposito, meminjamkan uang dan mengeluarkan surat perintah pembayaran khususnya di Osaka sering menciptakan uang. Pada filosofi ekonomi pada birokrasi Tokugawa menitik beratkan pertanian sebagai sumber utama kekayaan sedangkan perdagangan dianggap tidak produktif dan perdangangan mendapat posisi terendah dalam masa Tokugawa. Pada periode Tokugawa di Jepang dikenalkan ekonomi uang yang dipengaruhi oleh dua faktor khusus: semua samurai di wajibkan tinggal di istana, markas besar pemerintah pindah dari pertanian, mereka menjadi rentenir dan sumbangan penting lainnya untuk perdagangan adalah SANKIN KOTAI (sistem jaminan) sering dianggap perdagangan Tokugawa. Sedangkan Jepang berkembang karena feodalisme mendahului periode modern, karena feodalisme melindungi perdagangan karena bangsa yang kuat militernya merupakan kebijakan yang sama pentingnya dengan pembangunan ekonomi. Dan pembakuan-pembakuan politik menghapus kekuasaan DAIMYO (penguasaan militer) dan membangun suatu negara yang mempunyai pemerintahan pusat. Hal ini dicapai melalui HANSEKI HOKAN (dipulihkannya pendaftaran tanag) dan HAIHAN CHIKEN (dihapuskannya wilayah-wilayah pembayar upeti). Tujuan utama pemerintah baru adalah untuk menciptakan suatu angkutan darat moderndan dipersenjatai modern.

Menurut Learner (Bintoro, 1987:2.2)  modernisasi adalah suatu proses yang sisteimatis yang menyangkut perubahan kependudukan, ekonomi, politik, komunikasi dan sektor kebudayaan dalam suatu masyarakat. Untuk menjadi modern, anggota masyarakat harus memiliki mobilitas baik dalam arti fisik maupun psikis. Mobilitas fisik berarti kebergerakan anggota masyarakat termasuk perpindahan dari desa ke kota. Teori modernsasi Baru sengaja menghindar untuk memperlakukan nilai-nilai tradisional dan modern sebagai dua pengkat sistem nilai yang secara total bertolak belakang. Kedua perangkat sistem nilai tersebut bukan saja dapat saling mewujud saling berdampingan, tetapi bahkan dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, tidak lagi melihat bahwa nilai tradisional merupakan faktor penghambat pembangunan, bahkan sebaliknya, kajian baru ini secara sungguh-sungguh hendak berusaha menunjukkan sumbangan positif yang dapat diberikan oleh sistem nilai tradisional.

Hubungan dengan barat tidak hanya menberikan pimpinan jepang suatu model dari modernisasi sehingga cukup masuk akal untuk beranggapan bahwa jika tidak mengambil langkah-langkah pencegahan maka Jepang akan menjadi koloni. Ancaman barat menciptakan kesadaran dan keharusan untuk bertindak menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang dinamakan ”Revolusioner” dalam arti menghancurkan sistem feodal dan membuka jalan bagi sistem ekonomi dan politik baru. Pembaharuan Meiji tidak lengkap sebagai revolusi terutama kerena bukan revolusi dari kaum yang diperintah, tetapi revolusi dalam samurai dan dapat dikatakan sebagai perebutan kekuasaan dalam kelas memerintah. Sehingga upaya-upaya yang mereka lakukan mencerminkan campuran yang aneh-aneh dari strategi modernisasi dan pelestarian. Kemajuan ekonomi sustu negara sangat dipengaruhi oleh sikap rakyat-rakyatnya terhadap kerja dan konsumsi, karena jika suatu negara dapat maju dengan cepat, harus mempunyai banyak orang yang hemat dan mau bekerja keras. Dalam suatu perekonomian kapitalis, produkivitas perusahaan merupakan penentu utama bagi produktivitas nasional dan penentu lainnya adalah manajemen. Suatu negeri feodal agraris yang tidak punya berbagai sumber daya diubah menjadi negara industri yang makmur dalam jangka waktu pendek, karena kemajuan ekonomi Jepang juga merupakan asal mula kerusakan lingkungan (pencemaran dan kebisingan). Masalah-masalah pembangunan ekonomi Jepang mestinya dapat dihindari seandainya digunakan suatu sistem ekonomi sosialis dan ada alasan kuat untuk percaya bahwa tingkat pertumbuhan sangat lambat. Bagi kebanyakan ekonomi praktis, masalah kebahagian itu terlalu kabur. Karena itu masalah ini sangat penting sebagai falsafah Jepang, tetapi tidak bagi pemimpin zaman Meiji.

Namun dapat diajukan argumentasi bahwa Jepang tidak punya pilihan lain pada masa itu, ketika negara-negara barat mengancam kemerdekaan bangsa-bangsa asia dengan kekuatan militernya yang unggul. Meskipun begitu ada jalur-jalur tindakan lain yang terbuka bagi para pemimpin zaman Meiji membangun kekuatan militer untuk tujuan pertahanan dan tidak mengunakannya untuk agresi. Karena akan mengundang kesulitan di masa depan pada waktu zaman Meiji kepada negara-negara tetangga. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa politik damai tidak akan membawa kearah kehancuran nasional seperti yang mereka yakini.

REFERENSI :

Kunio, Yoshihara. (1985). Pembagunan Ekonomi Jepang. Jakarta : Universitas Indonesia.

Lauer, Robert  H. (1993). Persepektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta : Rineka Cipta.

Suwarsono, dan So, Alvin Y. (1994). Perubahan sosial dan pembangunan, teori-teori modernisasi, dependensi, dan sistem dunia. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

Tjokrohamidjojo, Bintoro. 1987. Administrasi Pembangunan, Jakarta : Karunika.

    • Mutia Ningsih (0705418)
    • November 8th, 2010

    JEPANG DALAM TEORI DEFEDENSI

    Keadaan Dunia pasca Perang Dunia II memang telah terpolarisasi menjadi Negara besar dan kaya, Negara kurang maju serta Negara baru yang terbelakang. Ketimpangan keadaan dan kondisi antara Negara-negara kolonial yang kalah perang dengan Negara-negara baru merdeka jelas sekali kelihatan. Perbedaan ini menimbulkan sejumlah konsep dan gagasan untuk menanggulangi perbedaan keadaan tersebut.
    Amerika Serikat memanfaatkan keadaan dimana banyak negara yang membutuhkan bantuan ekonomi untuk memperbaiki negaranya (dengan menanamkan pengaruhnya) jika tidak maka negara-negara tersebut akan masuk dalam pengaruh kekuasaan ideologi komunis Uni Soviet. Maka Amerika tampil sebagai negara kreditor bagi negara-negara di luar pengaruh Uni Soviet. Dengan bantuan tersebut selanjutnya mampu membuat kedudukan Amerika menjadi kuat sebab ia berhasil menciptakan ketergantungan negara peminjam pada Amerika.
    Negara Jepang pasca perang dunia II harus membayar ganti rugi perang dan harus mengubah Undang-undang Dasar Meiji menjadi Undang-Undang dasar yang melambangkan kedemokrasian sesuai dengan tuntutan Amerika. Rakyat Jepang juga pada saat itu mengalami depresi karena perekonomian yang tidak stabil dan demokrasi yang harus di terapkan oleh masyarakat Jepang terutama di bidang politik dan kepemerintahan.karena kondisi jepang tersebut, maka, Jepang pun menjadi sasaran dari Amerika untuk meminjamkan modalnya dan menciptakan ketergantungan Negara Jepang terhadap Amerika.
    Perekonomian Jepang mengalami kehancuran yang disebabkan oleh beban kerusakan akibat perang tersebut. Industry dalam keadaan terhenti dan produksi pertanian kurang. Hamper semua kota besar kecuali Kyoto dan kota yang lebih kecil telah dihancurkan dan penduduknya terpencar-pencar di seluruh wilayah.
    Kekalahan perang Jepang membawa dampak buruk bagi perusahaan niaga. Perusahaan-perusahaan besar yang banyak berkecimpung dalam perdagangan luar negri mengalami kerugian yang sangat besar. Hal tersebut dikarenankan kekayaan Jepang yang ada di luar negri disita dan menandai kemunduran perusahaan perdagangan.
    Permasalahan yang cukup serius dalam perekonomian Jepang pada masa itu adalah tingginya tingkat inflasi yang terjadi sejak 1945 dan masih dirasakan hingga tahun 1948. Pada tahun 1948 tingkat produksi industry masih kurang. Produksi industry baru mencapai 1/3 dari yang seharusnya
    Awal puncak perekonomian Jepang di mulai dari PM Ikeda yang menitik beratkan toleransi dan kesabaran. Namun, PM Ikeda mengesampingkan permasalahan UU Jepang. Karena pada saat itu UU jepang yang berlaku masih ketetapan UU Jepang menurut peraturan Amerika. Pokok kebijakan PM Ikeda dalam bidang ekonomi adalah meningkatkan pendapatan masyarakat,perbaikan dan peningkatan pokok industri dalam negri. Pemerintah Jepang dalam kebijakan ekonomi membuka perbaikan di bidang teknik, investasi dan supply dari Amerika. Pada tahun 1955 mulai diadakan perjanjian pembayaran gaji pekerja di perusahaan. Pendapatan kariyawan dan buruh menjadi naik, dan tingkat konsumsi pun meningkat. Pasar dalam negri semakin di butuhkan dan terus berkembang sehingga ekonomi jepang terus maju. Peningkatan konsumsi terjadi pada televisi, kulkas, mesin cuci, kebutuhan alat elektronik rumah tangga.
    Meskipun produksi industri meningkat akan tetapi usaha mendapatkan bahan industri mentah untuk produksi baja dan logam bukan besi sangat sulit. Sehingga pemerintah menhentikan inflasi dan mengurangi pengeluaran dan meningkatkan pajak dalam anggaran pemerintah dan perekonomian mengalami ledakan pertama pada periode pasca perang. Pemulihan ekonomi sangat dipengaruhi kebijaksanaan penduduk dan pengenalan teknologi luar negeri dengan Amerika Serikat.
    Namun ternyata, Jepang mampu memanfaatkan pinjaman tersebut dan mengelolanya dengan baik, di dukung pula oleh tenaga-tenaga terdidik Jepang hasil dari restorasi meiji, jepang pun mampu mengembangkan perekonomiannya kembali dan berhasil terlepas dari ketergantungannya terhadap Amerika, dan bahkan kini menjadi Negara pesaing bagi Amerika. Dan kini, ekonomi pasar bebas dan industri Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina dalam istilah paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan ke perdagangan internasional, meskipun produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.
    Menurut R. Taggart dalam The Weight of The Yen, salah satu kunci kesuksesan Jepang terletak pada kemampuannya merencanakan secara detail langkah-langkah bisnis yang harus diambil dalam 20-50 tahun ke depan. Mereka merencanakan secara teliti cara-cara terbaik merebut pasar. Taktik yang biasa dipakai adalah membanjiri pasar dengan barang-barang yang sudah dikenal pasar tapi lebih berkualitass.
    Pada awalnya Jepang memulai kemajuan ekonominya dengan meniru barang-barang yang sudah ada. Mereka membuat imitasi kasar dari kamera-kamera Jerman seperti Leica dan Rolliflex. Tapi mereka terus meningkatkan kemampuan untuk memproduksi benda-benda tersebut, sehingga menghasilkan barang-barang dengan kualitas yang lebih tinggi. Pada akhirnya perusahaan Jepang malah mampu berinovasi dan mengalahkan barang produksi Barat. Perlahan tapi pasti Jepang mulai merebut pasar di banyak lini, terutama peralatan optik, elektronik, dan industri otomotif.
    Salah satu contoh keberhasilannya, mobil-mobil Jepang menyerbu pasar Amerika pada 1970-an. Jepang yang semula hanya meniru, berhasil mengembangkan mobil-mobil hemat bahan bakar berukuran kecil dengan harga lebih murah. Saat itu pemerintah Amerika mulai sadar lingkungan dan menerapkan serangkaian kebijakan yang mewajibkan penghematan bahan bakar, pengendalian emisi, sekaligus menerapkan standar keselamatan yang lebih tinggi. Tapi produsen mobil Amerika tak siap menghadapi perubahan kebijakan itu.
    Menurut pemaparan diatas dapat saya simpulkan bahwa teori pembangunan yang cocok dipakai untuk membahas mengenai perkembangan ekonomi jepang adalah teori defedensi. Sebagaimana yang diungkapkan Cardoso menurut teori defedensi baru bahwa, negara dunia Ketiga tidak lagi hanya semata bergantung pada asing, tetapi sebagai aktor yang aktif yang secara cerdik berusaha untuk bekerja sama dengan modal domestik dan modal internasional. Teori defedensi memberikan solusi dari permasalahan pembangunan yaitu,negara tegantung harus berupaya secara terus menerus untuk mengurangi keterkaitannya negara pinggiran dengan negara sentral, sehingga memungkinkan tercapainya pembangunan yang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukan revolusi sosialis
    Jadi pada awalnya menurut saya, teori dependensi sangatlah cocok diterapkan dalam pembangunan ekonomi jepang, karena pada saat itu Jepang, masih bergantung pada pengetahuan-pppengetahuan dari barat, serta dapat dikatakan belum mampu menciptakan produk mereka sendiri, mereka masih meniru produk-produk yang sudah terkenal dipasaran yang dibuat oleh produsen-produsen barat, meskipun dengan sedikit inovasi dan harga yang jauh lebih murah. Selain itu, pasca perang dunia II Jepang mengalami kejatuhan ekonomi karena pemboman kedua kota terpenting mereka. Jepang mendapatkan bantuan modal dari Amerika, dan mengalami ketergantungan terhadap modal tersebut selama beberapa waktu. Namun kini, Jepang telah membuktikan bahwa mereka mampu lepas dari ketergantungan tersebut, dan bahkan menjadi pesaing dari Amerika sendiri.

    REFERENSI :

    Suwarsono, dan So, Alvin Y. Perubahan sosial dan pembangunan, teori-teori modernisasi, dependensi, dan sistem dunia. Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta: 1994.

    Zulkarimein, Nasution, 1996, Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada

    Zunainingsih, M. 2009. Jatuhnya Bom Atom Pertama Kali. [Online]. Tersedia : http://memik.blog.uns.ac.id/2009/04/19/jatuhnya-bom-atom-pertamakali/. (07 November 2010)

    ________. 2009. Ekonomi Jepang. [Online]. Tersedia : http://amikaze-sasori.blogspot.com/2009/02/ekonomi-jepang.html. (07 November 2010)

    _______. 2010. Dari Isolasi Hingga Industri. [Online]. Tersedia : http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-249-dari-isolasi-hingga-industri.html. (07 November 2010)

    • wenda lestari (0705488)
    • November 8th, 2010

    Perekonomian Jepang Menurut Teori Sistem Dunia

    Sejak periode Meiji (1868-1912), Jepang mulai menganut ekonomi pasar bebas dan mengadopsi kapitalisme model Inggris dan Amerika Serikat. Sistem pendidikan Barat diterapkan di Jepang, dan ribuan orang Jepang dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa untuk belajar. Lebih dari 3.000 orang Eropa dan Amerika didatangkan sebagai tenaga pengajar di Jepang. Pada awal periode Meiji, pemerintah membangun jalan kereta api, jalan raya, dan memulai reformasi kepemilikan tanah. Pemerintah membangun pabrik dan galangan kapal untuk dijual kepada swasta dengan harga murah. Sebagian dari perusahaan yang didirikan pada periode Meiji berkembang menjadi zaibatsu, dan beberapa di antaranya masih beroperasi hingga kini.
    Pertumbuhan ekonomi riil dari tahun 1960-an hingga 1980-an sering disebut “keajaiban ekonomi Jepang”, yakni rata-rata 10% pada tahun 1960-an, 5% pada tahun 1970-an, dan 4% pada tahun 1980-an. Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang mengakibatkan konflik perdagangan. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Plaza 1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat diskonto resmi diturunkan hingga 2,5% agar produk manufaktur Jepang bisa kembali kompetitif setelah terjadi kemerosotan volume ekspor akibat menguatnya yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat, dan berakibat pada penggelembungan harga aset. Harga tanah terutama menjadi sangat tinggi akibat adanya “mitos tanah” bahwa harga tanah tidak akan jatuh. Ekonomi gelembung Jepang jatuh pada awal tahun 1990-an akibat kebijakan uang ketat yang dikeluarkan Bank of Japan pada 1989, dan kenaikan tingkat diskonto resmi menjadi 6%. Pada 1990, pemerintah mengeluarkan sistem baru pajak penguasaan tanah dan bank diminta untuk membatasi pendanaan aset properti. Indeks rata-rata Nikkei dan harga tanah jatuh pada Desember 1989 dan musim gugur 1990. Pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi pada 1990-an, dengan angka rata-rata pertumbuhan ekonomi riil hanya 1,7% sebagai akibat penanaman modal yang tidak efisien dan penggelembungan harga aset pada 1980-an. Institusi keuangan menanggung kredit bermasalah karena telah mengeluarkan pinjaman uang dengan jaminan tanah atau saham. Usaha pemerintah mengembalikan pertumbuhan ekonomi hanya sedikit yang berhasil dan selanjutnya terhambat oleh kelesuan ekonomi global pada tahun 2000.
    Dilihat dari perjalanan panjang perekonomian bangsa Jepang, Negara Jepang merupakan penganut sistem ekonomi kapitalisme. Menurut teori sistem dunia, dunia ini cukup dipandang hanya sebagai satu sistem ekonomi saja, yaitu sistem ekonomi kapitalis. Negara-negara sosialis, yang kemudian terbukti juga menerima modal kapitalisme dunia, hanya dianggap satu unit saja dari tata ekonomi kapitalis dunia. Teori ini yang melakukan analisa dunia secara global, berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari ekonomi kapitalis yang mendunia.
    Teori sistem dunia telah mampu memberikan penjelasan keberhasilan pembangunan ekonomi pada negara pinggiran dan semi pinggiran. Negara-negara sosialis, yang kemudian terbukti juga menerima modal kapitalisme dunia, hanya dianggap satu unit saja dari tata ekonomi kapitalis dunia. Negara sosialis yang kemudian menerima dan masuk ke dalam pasar kepitalis dunia adalah China, khususnya ketika periode pengintegrasian kembali (Penelitian So dan Cho dalam Suwarsono dan So, 1991). Teori ini yang melakukan analisa dunia secara global, berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari ekonomi kapitalis yang mendunia. Kapitalisme yang pada awalnya hanyalah perubahan cara produksi dari produksi untuk dipakai ke produksi untuk dijual, telah merambah jauh jauh menjadi dibolehkannya pemilikan barang sebanyak-banyaknya, bersama-sama juga mengembangkan individualisme, komersialisme, liberalisasi, dan pasar bebas. Kapitalisme tidak hanya merubah cara-cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan antar negara, bahkan sampai ke tingkat antar individu. Sehingga itulah, kita mengenal tidak hanya perusahaan-perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan bentuk negara. Dengan menganut sistem ekonomi kapitalis, perekonomian Jepang, menjadi lebih baik dan maju dari “bapaknya” Amerika Serikat.

    Referensi
    Alvin Y. SO Suwarsono. (1991). Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: LP3ES .

    Immanuel Wallerstein. (1982) The Rise and Future Demise of World Capitalist System; Concepts for Comparative Analysis. Introduction to The sociology of Developing Societies: Hamza Alavi and Theodor Shanin. .

    Robert. A. Denemark et al. (2000). World System History: The Social Science of Long Term Change. London: Routledge.

    Widodo, Slamet. (2008) . Perspektif Sistem Dunia. (online). Tersedia: http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/perspektif-sistem-dunia/ [06 November 2010]

    ________. (____). Ekonomi Jepang. (online). Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Jepang [07 November 2010]

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: