SINGAPURA : DARI PERKAMPUNGAN NELAYAN MENJADI KOTA METROPOLIS

SINGAPURA : DARI PERKAMPUNGAN NELAYAN

MENJADI KOTA METROPOLIS

oleh: Rubi Setiawan 0806998

 

 

 

Pulau Singapura menjadi negara maju, sejak pulau yang dulu bernama Temasek ini dijadikan sebuah pos perdagangan , pulau ini menjadi salah satu pelabuhan terpenting di dunia. Campur tangan Kerajaan Inggris di semenanjung Melayu selama tahun 1920-an, mentransformasi Melayu menjadi produsen utama karet dan timah. Karet dan timah diekspor dari pulau Singapura. Hingga akhir abad ke-19 Singapura merupakan pusat administrasi bagi Malaya sampai kemudian Kuala Lumpur telah dinyatakan sebagai ibu kota Singapura. Pada tahun 1934, pemerintah Inggris mencabut kontrol hegemoni dari East India Company dan rute perdagangan menjadi mudah ditembus. Hal ini dimungkinkan oleh perjanjian yang tidak adil pada tahun 1842. Perjanjian yang tidak adil adalah istilah umum untuk berbagai jenis perjanjian yang ditandatangani oleh sejumlah negara Asia Timur seperti Cina, Jepang dan Korea dengan kekuasaan barat selama awal abad ke-20. Pada saat itu dalam sejarah negara Asia tidak dapat menahan tekanan militer yang dikenakan kepada mereka oleh kekuasaan asing seperti perjanjian yang tidak adil yang ditandatangani oleh negara-negara Asia yang mengalami kegagalan militer.

Singapura memiliki sebuah pasar ekonomi yang maju dan terbuka, dengan PDB per kapita kelima tertinggi di dunia. Bidang ekspor, perindustrian dan jasa merupakan hal yang penting dalam ekonomi Singapura. Pemerintah Singapura berhasil menetapkan simpanan uang yang tinggi dengan memperkenalkan sistem penyimpanan uang yang wajib kepada para pekerja. Singapura juga memperbaiki dan meningkatkan pendidikan dan teknologi. Era globalisasi yang terjadi pada saat ini menyebabkan Singapura lebih perhatian kepada usaha untuk menjadikan negara tersebut sebagai sebuah pusat keuangan dan teknologi dalam kawasan Asia.

Adanya krisis yang terjadi di dunia menjadikan singapura sebagai  negara pertama di Asia yang masuk ke jurang resesi akibatmerosotnya ekspor karena krisis ekonomi global. Singapura termasuk lima negara dari 10 negara di Asia Tenggara yang mengalami kontraksi ketika krisis ekonomi global. Empat negara lainnya yang mengalami kontraksi adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia, dan Thailand.

Kuatnya pertumbuhan ekonomi Singapura menunjukkan pulihnya permintaan barang dari Amerika Serikat (AS). Bangkitnya ekonomi Singapura juga merupakan pertanda Asia memimpin pemulihan ekonomi global. Negara kota yang mengandalkan sektor perdagangan, finansial, dan pariwisata itu merupakan negara Asia pertama yang melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal I setelah krisis.

Produksi industri Singapura melonjak 139% dari kuartal sebelumnya, dipimpin oleh kenaikan produksi industri elektronik dan biomedis. Sementara itu, sektor jasa tumbuh 11%. Tekanan inflasi Bank sentral, yang dikenal sebagai Otoritas Moneter Singapura (MAS), setelah meninjau kebijakan dua kali per tahun telah mengubah kebijakan nilai tukarnya. Yakni dari apresiasi nol persen menjadi apresiasi yang moderat dan bertahap. Hal itu dilakukan untuk meredam inflasi.

Secara keseluruhan, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa perekonomian Singapura itu sangat bergantung kepada sektor jasa dan pariwisata, termasuk sektor perdagangan dimana memiliki jaringan perdagangan yang luas dengan negara-negara lain di dunia, sehingga apabila jika terjadi krisis moneter, dampaknya sangat dirasakan oleh Singapura yang ekonominya akan ambruk jika melemahnya permintaan ekspor dari negara tujuan.

Referensi :

Hoo Yeen Nie. “State of Singapore came into being 50 years ago on 3 June”, 2 Juni 2009

Singapore Government (13 August 2009).Speech by minister mentor Lee Kuan Yew. Rilis Pers

Global Financial Centres 7, City of London, Maret 2010


    • aminclick
    • November 8th, 2010

    oleh Mochamad Ikhsan 0806991

    Menurut pendapat saya, jika melihat gambaran umum mengenai Ekonomi Singapura, maka sebenarnya negara ini dapat disimpulkan sangat bergantung pada perekonomian global , hal ini dikarenakan 80% lebih perekonomiannya sangat bergantung kepada perdagangan, terlebih mengandalkan ekspor komoditas unggulan seperti teknologi padat karya yang unggul, serta mengandalkan jasa dan pariwisata. Bila dikaitkan dengan teori sosiologi pembangunan, ekonomi Singapura lebih cenderung kepada Teori Sistem Dunia, dimana menurut saya teori sistem dunia, sebagai teori yang lebih menekankan pada ekonomi kapitalis, dengan asumsinya bahwa tidak ada satupun negara di dunia ini yang bisa melepaskan dari globalisasi dan kapitalismenya.Kapitalisme tidak hanya merubah cara-cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan antar negara, bahkan sampai ke tingkat antar individu. Sehingga itulah, kita mengenal tidak hanya perusahaan-perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan bentuk negara. Singapura dapat dikatakan sebagai negara pusat perdagangan, dan jasa tersohor di Asia bahkan dunia, membuatnya menjadi negara Industri baru di Asia dimana kekuatan ekonominya bertumpu pada perdagangan, jasa dan pariwisata sehingga sangat bergantung pada hubungan antar negara. Akibat dari kapitalisme nya ini, ketika terjadi krisis ekonomi global, maka ekonomi Singapura menjadi negara yang paling terkena imbasnya, seperti kejadian belum lama ini, dimana ketika terjadi krisis tahun 2008 lalu, ekonomi Singapura mengalami kontraksi dengan pertumbuhan ekonominya minus 2%, akibat melemahnya permintaan barang ekspor, lesunya perdagangan, hingga menurunnya wisatawan asing. Setelah krisis berakhir dan perekonomian global mulai menunjukan kembali geliatnya, maka ekonomi Singapura pun dengan sendirinya mulai merangkak bangkit dari kelesuan ekonomi, tercatat ekonominya tumbuh pesat kembali di kuartal III tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi positif sebesar 10 persen, diatas prediksi dari Bank Singapura. Singapura merupakan contoh dari kapitalisme global, dimana perekonomiannya memang sangat kapitalis dan standar kehidupannya sangat sesuai dengan negara-negara Eropa Barat dan Amerika, sehingga merupakan bagian dari sistem dunia.

    • aminclick
    • November 8th, 2010

    oleh :Rubi Setiawan 0806998

    Saya juga sependapat dengan teori sistem dunia yang anda sampaikan. Saya masih merasa condong akan pendapat Cardoso dengan teori defedensi baru “ negara Dunia Ketiga tidak lagi hanya semata bergantung pada asing, tetapi sebagai aktor yang aktif yang secara cerdik berusaha untuk bekerja sama dengan modal domestik dan modal internasional ”
    Jadi, Konsep ini dapat menjelaskan sekalipun dalam era globalisasi—wajah lain dari kapitalisme internasional—telah melakukan penetrasi kultural ke segala mata angin dunia, maka seharusnya ekspresi kebudayaan dunia akan bermuka tunggal dalam satu kontrol. Seluruh ekspresi kebudayaan termasuk ekspresi simboliknya akan mengacu pada ekspresi dominan dalam nama pasar. Tidak ada celah lagi untuk menjadi independen. Namun kenyataannya masyarakat secara cerdik memanfaatkan intrusi pasar itu menjadi terobosan identitas.
    :))

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: