Abstrak mengenai Sosiologi Pembangunan di Timor-timur sejak berintegrasi dengan Republik Indonesia sejak tahun 1976 sampai 1999

oleh : Nur Fitri Hermayati

NIM : 0800276

 

Pembangunan adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang lebih maju dan kehidupan social yang lebih baik. Karena ruang lingkup pembangunan menyentuh berbagai bidang kehidupan manusia, maka jangkauan yang hendak dicapaipun dengan sendirinya merangkum banyak aspek, baik aspek social politik, social ekonomi, social budaya dan juga masalah pertahanan dan keamanan. Pembangunan pasti akan dilakukan di negara manapun dengan tujuan mengarah pada perkembangan yang lebih baik untuk negara tersebut. Pada umumnya pembangunan dilakukan pada negara-negara berkembang baik itu pembangunan seca fisik, non fisik, materil maupun immateril. Pada kenyataannya, pasca perang dunia ke 2 pembangunan marak terjadi di negara-negara dunia ketiga atau dalam istilah sosiologi pembangunan disebut dengan negara pinggiran untuk mengarah menjadi negara semi pinggiran bahkan diharapkan pula dapat mengarah menjadi negara maju dan dapat bersaing di kancah pembangunan dunia.

Yang akan penulis bahas disini ialah mengenai pembangunan di sebuah negara sebelah Timur Indonesia yang merupakan bekas koloni portugal dan setelah merdeka dari portugal sebagian besar rakyat Timor-timur  yang diwakili oleh kader partai Timor-Timur ini sepakat untuk berintegrasi dengan wilayah Republik Indonesia.  Menyadari akan kompleksnya permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mungkin saja timbul suatu pertanyaan “sudah seberapa jauhkah hasil pembangunan yang dicapai timor-timur semenjak provinsi termuda ini berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1976”.

Dengan mengamati kondisi social yang diwariskan oleh pemerintah Portugis pada waktu itu yang meninggalkan Timor-timur dengan kekacauan pada seluruh aspek kehidupan di wilayah Timor-Timur, dapat ditarik kesimpulan bahwa hampir tidak mungkin jika hanya melibatkan rakyat Timor-timur secara aktif dalam menangani pembangunan yang akan dilakukan setelah berintegrasi dengan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini juga menyebabkan perlunya ada kerja sama dari pihak pemerintahan Republik Indonesia yang di sisi lain juga menginginkan berintegrasinya Timor-Timur ke wilayah Indonesia. Selain itu mengingat bahwa negara Timor-Timur barulah merdeka sehingga stabilisasi negaranya pun masih sangat rendah. Sebenarnya diperlukan juga bantuan dari negara-negara maju atau pihak/ instansi terkait dalam menangani masalah pembangunan Timor-Timur ini hanya saja semuanya tidak semudah membalikan telapak tangan karena banyak juga faktor penghambat yang dihadapi.

Berpangkal dari kondisi-kondisi objektif tersebut, maka pemerintah daerah Provinsi Timor-timur mencoba menyusun kerangka kebijaksanaan mendasar yang mencangkup tiga tahapan kegiatan yaitu:

1. Tahapan Rehabilitasi yaitu suatu kegiatan rehabilitasi atas segala hal yang bersifat mendesak agar kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Tahapan ini dilakukan dari tahun 1976-1977.

2. Tahapan konsolidasi yaitu suatu tahapan penataan kedalam serta mengukuhkan kekuatan yang ada agar wadah-wadah kegiatan berupa pembentukan struktur pemerintahan dalam waktu tempo yang secepat-cepatnya. Tahapan ini dilakuakan dari tahun 1977-1978.

3. Tahapan stabilisasi yaitu suatu tahapan yang memungkinkan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan normal atau menstabilkan setiap pembangunan yang telah dilakukan. Tahapan ini dilakukan dari tahun 1978-1979.

Ternyata kebijaksanaan mendasar yang dilakukan melalui tahapan-tahapan tersebut di atas telah meratakan jalan bagi pelaksanaan pembangunan selanjutnya diseluruh Provinsi Timor-timur.

Berdasarkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam tahapan-tahapan kebijaksanaan seperti yang dipaparkan di atas, maka untuk memantapkan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan selanjutnya pemerintah di daerah Provinsi Timor-timur telah menetapkan pola dasar , strategi dan arah pembangunan yang lebih kongkrit dan mencakup seluruh sector kegiatan pembangunan. Dengan pola dasar, strategi serta arah yang telah dirumuskan dalam kebijaksanaan pemerintah, dilaksanakan seluruh kegiatan pembangunan di wilayah Timor-timur.

Dari hasil pengamatan atas pelaksanaan pembangunan tersebut, dapat diketahui bahwa masih terdapat berbagai hambatan untuk mencapai hasil-hasil yang lebih diharapkannya, tetapi tanpa mengabaikan factor-faktor penghambat seperti yang telah disebutkan di atas, pemerintah daerah Provinsi Timor-timur  tetap melaksanakan pembangunan di wilayah Timor-timur meskipun dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki provinsi Timor-timur . Disamping itu dilakukan juga pencarian solusi untuk berbagai hambatan tersebut sampai hambatan itu mencapai batas yang paling minimal.

Adapun strategi pembangunan yang dilaksanakan untuk wilayah Timor-Timur termasuk kedalam pembangunan jangka pendek yang merupakan program tahunan dan jangka menengah yang termasuk kedalam program Pelita 3 yang dicanangkan oleh pemerintahan orde baru. Strategi pembangunannya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan penduduk maupun pendapatan regional lewat usaha peningkatan produksi, penanggulangan pengangguran, pemanfaatan dan pelestarian sumber-sumber, peningkatan sumber daya manusia dan rehabilitasi maupun pengadaan prasarana.

Berdasarkan hasil inventarisasi terhadap berbagai bidang kegiatan, ternyata terdapat kemajuan-kemajuan yang dapat menggembirakan, terutama disektor-sektor pertanian, pendidikan, dan perhubungan.

Sector pertanian :

Tingkat produksi pertanian pangan sudah dapat dikembalikan pada tingkat produksi sebelum tahun 1976. Dalam tahun 1979, produksi pangan mencapai 15.000 ton, gabah kering, dan pada tahun 1980 meningkat menjadi 23.537 ton gabah kering. Sementara itu, luas area pertanian teknis mencapai 15.000 hektar . hal ini dimungkinkan karena adanya penyelesaian dua buah irigasi yang masing-masing bertempat di desa Seacal dan Balobo. Demikian pula tingkat produksi tanaman pangan lainnya, menanjak dengan tinggi terutama sayuran-sayuran dan juga palawija. Di beberapa kabupaten terdapat kelebihan produksi jagung.

Sektor pendidikan :

Pada saat integrasi tercatat 77 unit SD dengan jumlah anak didik 50.512 siswa sampai dengan tahun anggaran 1980/1981, jumlah gedung SD yang telah dibangun baru, mencapai 227 unit disetiap lokal daerah. Sementara itu, gedung-gedung SD yang telah direhabilasi jumlah 37 unit di setiap lokal daerah. Sehingga jumlah murid SD yang tertampung setelah integrasi bertambah menjadi 31.680 orang.

Sektor Perhubungan :

Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa hampir seluruh jaringan jalan yang panjangnya 2.965 km berada dalam kondisi rusak berat dan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Dalam usaha rehabilisasi pemasaran perhubungan, telah berhasil diperbaiki jalan sepanjang 1.845 km yang menghubungkan ibu kota kabupaten seluruh wilayah Provinsi Timor-timur. Khusus di kota Dili, telah dilakukan pengaspalan jalan dengan system hotmix sepanjang 23,5 km. pengaspalan jalan dengan kualitas tinggi ini dimaksudkan agar rakyat Timor-timur mengetahui akan kesungguhan serta kemampuan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di Timor-timur.

Disamping tiga sektor yang kita sebutka diatas, maka secara keselurhan, hasil-hasil yang telah dicapai pemerintah bersama rakayat Timor-timur dalam pembangunan wilayahnya sangat menggembirakan dan ini merupakan investasi bagi pembangunan selanjutnya.

Dari berbagai sumber pemberitaan, baik dari dalam maupun luar negeri,
diketahui bahwa kondisi ekonomi Timor Timur saat ini jauh lebih baik
dibandingkan keadaan pada masa penjajahan Portugal. Hal ini terlihat
dari pertumbuhan prasarana fisik
, seperti jalan raya, jembatan,
sekolah, dll
yang sangat pesat. Dari segi spiritual juga terlihat
adanya peningkatan. Seperti diakui oleh Uskup Belo dalam salah satu
wawancara dengan majalah GATRA, penganut Katolik semakin meningkat dan
jumlah penganut animisme semakin berkurang. Keberhasilan ini jelas
merupakan hasil dari pembangunan prasarana fisik yang memungkinkan
perluasan kegiatan misi Katolik ke seluruh penjuru daerah Timor Timur.
Subsidi pemerintah pusat untuk kegiatan pembangunan di Timtim terus
dikucurkan dalam jumlah besar karena pendapatan asli daerah masih sangat
kecil, sedangkan investasi swasta belum berkembang karena instabilitas
politik di daerah.
Keberhasilan ini pun tidak dapat dipungkiri karena adanya kerja sama yang solid dari berbagai pihak terutama pemerintah Republik Indonesia.

Jika menggunakan pendekatan teori sosiologi pembangunan maka teori yang cocok untuk pembangunan Timor-Timur adalah teori Dependensi baru yaitu suatu teori yang menyebutkan bahwa fenomena atau pembangunan yang ada di suatu negara tidak hanya mencakup aspek pembangunan ekonomi saja tetapi juga dapat dilihat dari masalah sosial-politik yang ada didalamnya. Jadi dapat dikatakan bahwa teori ini hanya mencakup masalah internal negara. Ciri khas lain pada teori ini ialah adanya ketergantungan pada negara satelit terhadap negara pusat dalam proses pembangunannya.

Jika melihat permasalahan diatas, maka dapat dikatakan bahwa pembangunan di timor-timur dalam periodisasi pasca berintegrasi dengan wilayah Republik Indonesia sejak tahun 1976 sampai 1999 maka memang konhern dengan teori dependensi baru, karena setelah ditinggal oleh negara jajahannya (Portugal) dan menjadi negara merdeka, Timor-timur bergantung pada negara yang ada disekitarnya yaitu Indonesia untuk menyusun pemerintahan baru. Selain itu masalah utama yang mereka fokuskan sebagai wilayah baru di Republik Indonesia yaitu masalah politik dan struktur pemerintahan baru lah setelah itu masalah lain termasuk masalah ekonomi yang terus dibenahi. Dapat disimpulkan bahwa Timor-timur sebagai negara satelit dari Indonesia sebagai negara pusatnya dalam melakukan pembangunannya agar dapat menjadi wilayah yang maju.

Sumber :

· Buku Timor-Timur membangun yang dikeluarkan oleh Direktorat publikasi Timor-Timur

· Poesponegoro, Marwati Djoened.(1984). Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta : PN BALAI PUSTAKA

· Ricklefs, M.C. (2004). Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta

· Buku Peta politik dan dinamika pembangunan Timor-Timur karya George Neonbosu

· http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/05/31/0001.html

· http://gogoleak.wordpress.com/2010/10/18/sekilas-tentang-sejarah-indonesia/

· http://forum-haksesuk.blogspot.com/2009/07/timor-leste-punya-lowong-meraih.html

· http://dellasejarah.blogspot.com/2010/10/indonesia-masa-orde-baru.html

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    OLEH : HANI FITRIANI
    NIM : 0806686

    Ya saya setuju dengan pendekatan teori Depedensi baru yang anda gunakan, karena memang benar bahwa pembanguanan ekonomi Timor-timur ketika masih berintegrasi dengan Indonesia mereka dalam proses pembangunannya sangat mempunyai ketergantungan yang tinggi kepeda pemerintah pusat yaitu Indonesia, dan pemerintah pusat juga memberikan respon yang baik dengan mensubsidi dana yang cukup besar dibandingkan dengan wilayah lainnya seperti Aceh dan Irian. Tetapi disamping teori Depedensi baru pembangunan di Timor-timur juga menggunakan teori Rostow, yang mana hal ini terlihat dari arah dan strategi pembangunan pada masa itu. Pelita dan Repilita yang digunakan di masa orde baru adalah aplikasi dari teori Rostow yaitu The Stage of Economic Growth. Tahapan teori Rostow adalah ;
    1. Keadaan pembangunan ekonomi masih Tradisional
    2. Kedaan masyarakat dalam kondisi pembanguanan ekonominya siap-siap untuk naik ( pra tindalandas)
    3. Keadaan pembanguanan ekonomi mulai Tumbuh (tahap tindalandas)
    4. Masa kematangan
    5. Keadaan masyarakat dengan konsumsi masa tinggi
    Namun, disamping hal itu teori rostow juga memiliki kekurangan, diantaranya adalah :
    1. Unsur-unsur historis
    2. Tidak semua bidang memilki kesiapan untuk siap landas
    3. Adanya kegelisahan atau kekacauan yang akan melakukan pertumbuhan pembanguanan
    4. Aspek-aspek yang lain.
    Kekurangan-kekurang tersebut yang mengakibatkan Indonesia tidak bisa berhasil. Karena Indonesia dalam pertumbuhannya tidak semua bidang secara beriringan melainkan satu per satu. Pada masa orba juga banyak kegelisahan yang terjadi sehingga hal ini mempengaruhi pertembuhan pembanguanan dan Indonesia memiliki aspek-aspek seperti Religi, Budaya yang tidak siap untuk melakukan pertumbuhan pembangunan. Hal tersebut juga berlaku di Timor-timur, pada masa itu juga Timor-timur pertumbuhan pembangunannya tidak mencapai keberhasilan sepenuhnya seperti yang direncanakan ( dalam pelita dan repelita).
    Namun, walaupun Timor-timur mendapat pembangunan yang cukup baik dibandingkan masa penjajahan Portugis tetapi disamping itu, Timor-timur mengalami tindakan kesewenang-wenangan dari pihak militer Indonesia (ABRI). Kurang lebih mereka membunuh hampir 200.000 warga Timor Timur dan melalui pembunuhan, pemaksaan kelaparan dan lain-lain. Dan banyak pelanggaran HAM yang terjadi saat Timor-timur berada dalam wilayah Indonesia. Sehingga pada tanggal Tanggal 30 Agustus 1999, rakyat Timor-timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia dalam sebuah pemungutan suara yang diadakan PBB. Sekitar 99% penduduk yang berhak memilih turut serta 3/4-nya memilih untuk merdeka. Segera setelah hasilnya diumumkan, dikabarkan bahwa pihak militer Indonesia melanjutkan pengrusakan di Timor Timur, seperti merusak infrastruktur di daerah tersebut. Pada Oktober 1999, MPR membatalkan dekrit 1976 yang menintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia, dan Otorita Transisi PBB (UNTAET) mengambil alih tanggung jawab untuk memerintah Timor Timur sehingga kemerdekaan penuh dicapai pada Bulan Mei tahun 2002.

    Sumber :
    • Buku Timor-Timur membangun yang dikeluarkan oleh Direktorat publikasi Timor-Timur
    • Poesponegoro, Marwati Djoened.(1984). Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta : PN BALAI PUSTAKA
    • Ricklefs, M.C. (2004). Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta
    • Buku Peta politik dan dinamika pembangunan Timor-Timur karya George Neonbosu
    http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/05/31/0001.html
    http://gogoleak.wordpress.com/2010/10/18/sekilas-tentang-sejarah-indonesia/
    http://forum-haksesuk.blogspot.com/2009/07/timor-leste-punya-lowong-meraih.html
    http://dellasejarah.blogspot.com/2010/10/indonesia-masa-orde-baru.html

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    OLEH : Nur Fitri Hermayati
    NIM : 0800276

    Ya, terimakasih Hani karena saya telah diingatkan dengan teori Rostow , saya juga setuju dengan pendekatan teori Rostow dalam pembangunan Timor-Timur apalagi studi kasus yang saya gunakan dalam artikel saya ialah sejak wilayah Timor-Timur itu berintegrasi dengan Indonesia yang bertepatan dengan berlakunya masa orde baru di Indonesia. dalam buku Timor-Timur membangun yang dikeluarkan masyarakan Timor-Timur sendiri pun mengatakan bahwa memang tidak seutuhnya aspek kehidupan Timor-Timur dapat menerima pembangunan secara langsung, dapat dibilang pembangunan yang ada itu dipaksakan karena memang Timor-Timur dituntut untuk melakukan pembangunan pasca ditinggalkan oleh Portugal. ditambah keadaan Timor-Timur pasca ditinggal Portugal sangatlah kacau di semua aspek. itu sebabnya pembangunan terlihat tidak siap walaupun program pembangunan itu masuk kedalam pelita dan repelita.

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    oleh : Hani Fitriani
    Nim : 0806686

    ya,,memang benar bahwa keadaan timor-timur pada waktu itu memang terkesan dipaksakan. sehingga mereka merasa kaget dengan program pembangunan (pelita dan repelita). ditambah disamping itu kondisi keadaan geografisnya tidak terlalu subur dibandingkan dengan kondisi geografis di wilayah Indonesia lainnya. sehingga program repelita III yang salah satu strateginya ialah pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dengan meningkatkan produksi pangan khususnya padi tidak terlalau maksimal, karena kondisi tanahnya tidak terlalu subur.

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    Oleh : Nurfitri Hermayati
    NIM

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    Oleh : Nurfitri Hermayati
    NIM : 0800276

    Dari pernyataan-pernyataan diatas, kita sepakat bahwa pembangunan di Timor-Timur tidak cocok untuk menggunakan pendeketan Rostow. karena melihat kelemahan-kelemahan yang ada di Indonesia khususnya di Timor-Timur. oleh karena itu, dalam hal ini saya menawarkan suatu solusi, menurut saya, untuk pembangunan di Timor-Timur pada era 1976-1999 menggunakan pendekatan Dependensi baru dengan melihat struktur dan karakteristik wilayah Timor-Timur itu sendiri untuk melakukan pembangunan secara bertahap (misalnya didahulukan dulu salah satu aspek terpenting contoh : aspek pemerintahan)

    • aminclick
    • November 9th, 2010

    oelh : Hani Fitriani
    Nim : 0806686

    ya,,saya juga melihatnya lebih cocok dengan teori depedensi baru dari pada teori Rostow. namun, alangkah baiknya apabila Timor-timur juga menggunakan teori sistem dunia dalam perkembangannya saat ini yang mana timor-timur setelah memisahkan diri dari Indonesia (meredeka) dalam pembangunannya mereka masih meminta batuan Indonesia dan negara-negara lainnya khususnya yang disekitarnya seperti Australia. sehingga melihat kondisi ini posisi negara Timor-timur dapat dikatakan sebagai negara pinggiran dari negara semi pinggirannya yaitu Indonesia dan negara centralnya yaitu Australia

    • Togek
    • Desember 19th, 2010

    Dalam 20 tahun yang akan datang,saya yakin timor leste akan maju seperti Singapore

    VIVA TIMOR LESTE

  1. @ penulis:nice post mbak…
    isu tim-tim ini memang asik untuk kita simak, dan membuat orang-lain bertanya-tanya, ada apa dengan timtim yang dulu ini diurus baik pemerintah.. tapi jadi mabur dari NKRI.
    bukannya mengungkit masalah lalu.. tapi kita harus belajar dari kesalahan.
    settudjjuuuuh..?

    @togek: iyah jelas mas togek..
    khan pembangunannya telah diinvestasikan dari pemerintah indonesia..
    kalau gitu, kayak beliin baju anak buat lebaran.bapanya yg beliin, anak yg pake sampai usang

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: