kemana kah perginya sampah-sampah itu

Sering kita salah kaprah mengartikan kebersihan yang kita terapkan dirumah kita. asalkan sampah sudah dibuang ketempatnya kita bisa berlega hati, dan mengaku telah menjaga kebersihan. setelah sampah kita buang, bukan menjadi urusan kita lagi mengurusnya, biarlah petugas sampah atau gerobak keliling yang mengangkutnya.

bukannya gak bener, tapi sebagai orang yang mengerti arti penting menjaga lingkungan hidup, kita juga harus mengetahui kemana gerangan buangan sisa-sisa kita.

menurut ahli-ahli pengelolaan lingkungan hidup hal ini disebut fenomena NIMBYNot In My BackYard‘, asal ga di sekitar gue, maka bukan tanggungan gue lagi… itu kah yang ada dipikiran kita.

ga liat appah sampah plastik yang sudah me-mulau (membentuk pulau) di samudra atlantik, atau kali ciliwung yang semakin hari semakin keruh dan banyak benda berseliweran mengapung diatasnya, dari yang warnanya putih, ampe yang kuning.

ternyata fenomena ini dapat kita reduksi dengan melakukan pemilahan sebelum dilakukan pembuangan, agar sampah memiliki nilai.. trus..

gimana cara memilahnya..?

Gampang aja, sediakan dua jenis penampung untuk jenis sampah terurai[sisa makanan, potongan sayur, potongan rumput] dan tidak terurai[bungkus makanan, kertas, kaca, kain] atau biasa disebut organik dan non organik. setelah dipilah, kalau kita mau, sampah non organik dapat di uangkan, umumnya plastik bekas makanan bernilai Rp 300-500/kg, kertas Rp.700-900/kg, itu kalau dijual ke penadah barang bekas, tapi menurut pendapat tukang angkut sampah, mereka bisa menyalurkannya kepada penadah, asal dalam jumlah yang banyak, atau jika sedikit uangnya buat mereka saja,, itung2 amal. bayangin jika satu orang telah memilah 1Kg sampah berapa uang yang didapatkan jika se-RT (40 orang) . sampah organik, sisa makanan kita, dapat dijadikan pupuk kompos. <..yah kalau itu, teman2 semua juga pasti sudah tau> biarkan sisa2 kita menjadi manfaat, itu yang seharusnya kita lakukan dalam mengelola sampah.

yang pasti, dinas kebersihan sekarang ini sudah menyediakan gerobak pengangkut dua warna, dan bak sampah dua warna untuk memilah, tinggal kesadaran kita sendiri mau memilahnya atau tidak

dimana tempatnya

menurut teman2 dimana tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pembuangan dan pengelolaan buangan teman2??… setujukah teman2 jika ada tempat komposting berada di daerah tempat tinggal teman2??. sedangkan orang2 yang mengangkut sampah harus tetap dapat lewat dengan mobilnya, supaya tetap memungkinkan mereka untuk membawanya ke TPA, jika ada buangan yang tidak terolah. dan teman2 masih tetap dapat membuang sampah dengan mudah tanpa harus jauh-jauh berjalan..

memang hal ini menjadi hambatan yang teramat sulit diatasi.. karena masalah ego masing-masing.

silakan tinggalkan komentarnya

  1. No trackbacks yet.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
%d blogger menyukai ini: