Hari itu merupakan pengalaman pertama gue datang ke persidangan Kelas 2 C didaerah Pemda bogor. Ternyata momok menakutkan menghadiri persidangan sebagai terdakwa membuat kita lebih menyukai cara suap dan sogok-menyogok pak petugas daripada meluangkan waktu mengurus masalah yang kita buat secara sadar ataupun tidak.

Setelah menunggu ibu-ibu yang sedang senam di pelataran kantor, beberapa puluh menit kemudian kami yang menunggu didepan gerbang kantor peradilan diperbolehkan masuk. Dan gue langsung memilih tempat parkir strategis, yaitu di sisi parkiran mobil, dengan harapan motor yang gue parkir bisa leluasa bergerak setelah satu mobil ini keluar.

gue turun dari pelana kuda besi gue yang ompong gara-gara Ijin mengemudinya dicabut. Setelah mengeluarkan jimat lempit berisi duit (dompet) dari bagasi motor, gue menuju kerumunan orang2 yang ada didepan tembok putih berpapan fiber. Gue yang memang bertampang polos ini, langsung saja menjadi sasaran calo-calo sidang yang menawarkan jasanya. “Yah, maklum mas. Cari makan buat anak bini” gitu katanya saat gue bilang “kemahalan bang!!!”.

Niatnya yang baik, karena ga mau waktu gue kebuang sia-sia <jiah so sibuk ajah> masih kalah dengan rasa keingintahuan gue sama suasana dan proses persidangan tilang hari ini tuh seperti apa. Bosan pastinya menunggu, tapi yah bunuh saja kebosanan itu dengan membaca. Hehehe… itu senjata gue setiap nyantronin lembaga-lembaga kayak begini. Waktu 1-3 jam bisa lewat begitu aja, tau-tau nama lo dipanggil.

Kembali ke topik proses persidangan tilang. Gue yang saat itu memang pingin tahu lebih detail tentang tatacara persidangan, ga langsung mengecek nama gue dipapan pengumuman, tapi gue samperin petugas pengadilan yang baru aja selesai senam sama ibu-ibu tadi. “kang punten, saya mau ngurus tilang, tapi baru pertama kali nih. Gimana tahapan prosesnya yaah?” dengan mencoba berlogat-logat sunda gue sapa orang ini.

“ooh, mana coba liat surat tilangnya?” petugas ini secara responsif memberikan tanggapan. “kamu sudah liat nama kamu dipapan pengumuman?” sambung tanyanya. “belum kang..” jawab gue sambil ngasi surat tilang. “nanti kamu catat nomor urut kamu berapa, terus tulis disurat tilangnya. Habis itu tunggu didepan ruang sidang disebelah sana, kasi surat tilang kamu ke petugas yang membuka pintu ruangan sidangnya. Biasanya siy, petugasnya yang memintanya duluan” instruksi darinya. Kalau dilihat dari teknik penjelasannya, kemungkinan petugas yang gue hadapin ini belum bertugas lebih dari 5 tahun. Karena itu gue langsung gampang mencernanya dan tanpa buang banyak waktu, “Nuhun yah kang..”

gue tinggalin orang itu tanpa memberi apa2 selain ucapan terimakasih dalam bahasa sunda.

gue cari deh nama gue dipapan pengumuman, berlembar-lembar kertas ditempel berjejer. Entah itu tilang mobil pribadi, motor, kendaraan angkutan barang, semuanya disatukan tanpa keterangan ataupun pemisah, yang mana yah punya saya. Kesannya ga customer oriented banget yaah… <hehehe.. ‘penjahat lalulintas’ koq minta dilayanin lebih>. Yah singkat kata, setelah sikut sana – sikut sini, gue bisa temuin nama gue dipapan pengumuman. Sebagai dokumentator sejati, gue ga mau kehilangan momen berharga ini, segera kamera gue sorotkan ke daftar nama didepan gue. Cpreeet.. gambar telah disimpan, dan angkanya langsung gue pindahkan ke surat tilang gue.

kursi tunggu yang mirip bangku sekolah dasar (SD) gue dulu udah penuh sama orang2 yang menunggu pintu ruangan sidang dibuka. Gue yang males tanya kanan kiri, langsung aja membuka si pembunuh kebosanan. Tapi belum begitu lama gue membaca, bapak-bapak berkepala botak abri dengan kacamata minus 2 berseru “peserta perkara sidang tilang silakan masuk kedalam ruangan sidang dan taruh surat tilangnya di atas meja. Anda boleh duduk didalam atau menunggu diluar, bila tidak mendapatkan tempat duduk”. Kami yang sudah ga sabar langsung masuk keruangan, dan mengerjakan apa yang diperintahkan bapak petugas ini.

“Sidang belum bisa dimulai bila jaksa belum datang untuk membacakan vonis, mohon tunggu sebentar” kata ibu petugas. Kami yang sudah didalam ruang sidang menunggu lagi beberapa saat hingga seorang ibu-ibu berpakaian mirip pendeta ber dasi putih, mengenakan jubah hitam berbalut semacam rompi merah setengah badan, masuk keruangan sidang. Ia duduk dimeja depan, ditengah tanpa ditemani siapapun. Sementara petugas yang lainnya berdiri didepan mejanya masing-masing disisi kanan dan kirinya.

“Sidang perkara tilang hari ini dimulai… TOK. TOK..” serunya sambil mengetukkan godham keramatnya keatas mejanya sendiri. Kami yang berada diruangan itu senyap sekejap, tapi riuh kembali setelah nama kami satu persatu dipanggil ke depan. “mohon disiapkan kartu identitas diri” perintah petugas yang ada disebelah kiri meja jaksa.

Ga lama koq menunggu sampai nama gue dipanggil, gue kasi KTP gue ke hakim, terus ditanya begini “Kamu kena berapa pasal?”. Gue jawab “setau saya cuma satu bu, ga tau pasal berapa”. “Kamu kena denda 50 Ribu, serahkan identitas kamu diloket penyerahan!. Berikutnya…” perintah sang jaksa sambil memanggil peserta lainnya.

Gue kembali lagi ketempat awal gue dateng, dan langsung mendatangi loket penyerahan. Setelah memberikan uang 50 Ribu, SIM yang ditahan oleh pengadilan resmi gue ambil kembali. Hehehe.. selesai sudah sidang hari itu.

Sidang hari itu membawa pengalaman beriring penyesalan karena gue terlambat tahu kalau ternyata, jumlah denda bisa lebih rendah lagi, kalau yang gue kasi itu STNK. Karena ada bapak-bapak yang senasib setilang, yang bayar Cuma 35ribu buat tebus STNK yang ditahan. Ckckck.

Tapi ga apa, dengan maunya kita ber repot-repot di pengadilan. Kita sudah mengurangi bahaya LATEN KORUPSI dan PENYUAPAN yang sering hinggap di tubuh dan pikiran kita. Pesen gue buat lo yang kena tilang. PLISS JANGAN TAKUT DISIDANG

Iklan