Hamka2.jpg

Tak seperti kebanyakan ulama lainnya yang hidup terkungkung berzikir dan berkelompok didalam masjid dan majelis, sosok buya Hamka adalah sosok pribadi yang bebas dan humanis. Tercermin dalam masa muda yang dilahirkan dalam kalangan kiyai. Buya Hamka memiliki jiwa petualang, Ia dijuluki ayahanda nya gelar si bujang jauh. Karena pada usia 16 tahun sudah merantau menimba ilmu tentang gerakan islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.

Bila di compare dengan kondisi saat ini, maka saat itu Hamka baru saja lulus SMP. Bisa kita bayangkan semangat menutut ilmu sudah tertanam dalam diri Hamka. Saat itu terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat minang dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran islam di desanya.

Dalam perjalanan karir politiknya seorang Hamka tercatat sebagai orang yang bersebrangan dengan orang nomor satu di Indonesia pada masanya yaitu Ir. Soekarno, terutama pada saat perumusan dasar Negara. Beliau menyarankan kewajiban menjalankan syariat Islam kepada seluruh pemeluknya sebagai pancasila sila pertama sesuai dengan piagam Jakarta dalam pidatonya di Konstituante. Namun hal ini ditentang oleh Ir. Soekarno, karena alasan kemajemukan Indonesia yang tidak hanya terdiri dari umat Islam saja. Selain itu pendapat Hamka juga ditentang oleh partai Nasionalis dan Komunis pada masa itu.

Hingga dikeluarkannya dekrit presiden tahun 1959 untuk membubarkan konstituante, partai tempat Hamka bernaung yaitu partai Masyumi, dibubarkan dan diharamkan juga di tahun berikutnya. Dan pada 1964 Hamka di jeruji besikan, karena tuduhan Pro Malaysia, bahkan ada rumor yang mengatakan tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Hingga lengsernya Presiden Soekarno, Hamka dibebaskan dari penjara. Meski begitu, hamka tidak pernah menaruh dendam terhadap Ir.Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru hamka yang menjadi imam salatnya. Bahkan menurut beberapa kisah Ir.Soekarno meninggalkan pesan terakhir, “Bila aku mati kelak. minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Hamka tidak mungkin mendendam kepada teman semasa perjuangannya dimasa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia. Ia berhasil membuktikan bahwa kebaikan dan niat baik tidak akan pernah membuat seseorang menjadi buruk

Semasa hidupnya Hamka telah menghasilkan karya sastra yang diakui hingga mancanegara. HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura.

Iklan