Sebuah kajian iseng dari orang yang ga punya kerjaan

 

Sebelum gue menerangkan apa sih itu autisme, gue mau kasi alasan kenapa eh kenapa tulisan ini gue buat.

Jujur kawan, waktu se masa SD dulu gue saban hari lewatin jalan tanjakan sempit saat sekolah dengan sepeda koboi gue, lewatin sawah dan kebun singkong menuju SD Pondok Kacang Timur 4, Tangerang. Gue lihat ada sebuah rumah lusuh di samping tanjakan itu. Saat itu gue kelas baru 3 SD, hari itu gue lihat didepan rumah itu ada seorang anak yang gue bilang ‘babon ngiler’. Badannya gede buntek pakai kaus cokelat lusuh, yang basah bagian depannya karena iler nya menetes disana. Sambil dikerubungi lalat ia lalu memanggil manggil dengan suara teriakan yang gak jelas. Tanpa menggubrisnya gue tancap sepeda gue supaya bisa meluncur diatas tanjakan dan cepat sampai di sekolah.

Sepulangnya juga sama, saat melintasi rumah itu, gue meluncur dengan lincah didepan si babon ngiler. Tanpa menoleh sedikitpun. Ke esokan harinya gue lewat jalan yang sama dengan cara yang sama, si babon ngiler itu masih ditempatnya sambil senyum-senyum sendiri dengan ilernya yang menetes dan lalat yang menclok di sekitar mulutnya. Masih ga pingin gue pikirin siapa dan kenapa anak ini, gue tacap pedal sepeda gw diatas jalan yang banyak batunya itu.

Saat pulang sekolah hari itu adalah saat perasaan bete melanda :D. gue lewat jalan yang sama lagi dan masih dengan cara yang sama melesat dengan sepeda, lewati si babon ngiler. Setelah jarak agak jauh gue liat dia ketawa-ketawa dan tepuk tangan, sambil teriak kegirangan. Seolah habis melihat pertunjukan sirkus. Gue yang saat itu bete kok jadi merasa semangat lagi yah.

Dipikiran anak SD saat itu adalah gue udah jago lewat turunan dan tanjakan berbatu jadi pantas untuk di soraki sebagai pemenang oleh orang lain. Mengingat hari itu gue abis di setrap gara-gara mainan gameboy di SD impres ampe telat masuk kelas, dapet nilai ulangan jelek dan gue udah bikin tim gue kalah dalam permainan ta benteng sepulang sekolah. 😀

Kegiatan meluncur di depan rumah lusuh itu jadi hobi baru gue, dan entah kenapa jadi kepuasan tersendiri karena disorak-soraki oleh si babon yang katanya menjadi tumbal ayahnya yang belajar ilmu hitam. Hii sereemm.

Pernah gue lewat perlahan dan sesekali melambaikan tangan ke si babon ngiler ini, tapi dia gak merespon, pandangannya lurus dan mulutnya mangap sambil ngiler. Kadang pas gue lewat ia sedang disuapi oleh ibu-ibu tua. Gue jadi berfikir, ternyata anak ini makan seperti gue yang disuapin waktu kecil dulu.

Dan gue merasa gejala anak seperti ini, gue pernah juga temuin pada saat gue dan temen-temen nge godain orang gila supaya dikejar buat main kejar-kejaran didepan lapangan SD impres. 😀 hahaha. Sedikit cerita, setelah dilempar batu orang gila ini mengejar-ngejar kami dengan beringas, bajunya yang compang camping tangannya yang kotor dan mukannya yang marah menjadi tantangan tersendiri buat kami yang bandel-bandel ini. Kami berlarian keliling lapangan, si Udin yang terjatuh dibelakang hampir diterkam olehnya tapi anehnya tiba-tiba orang ini berjalan santai melintasi si Udin dengan pandangan lurus seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi beberapa saat lagi orang gila itu menangis dan tertawa sendiri sambil berguling ditanah. Kasihan deh kalo inget tu orang… 😀

<serius mode ON>

Secara gak langsung si babon ngiler itu udah memperkenalkan gue dengan apa yang disebut dengan autism saat ini. Terlepas dari asumsi ilmu hitam, tumbal, dan kegilaan. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain, perilaku, emosi dan aktivitas imajinasi.

Autis bukan suatu jenis penyakit tetapi merupakan suatu gangguan perkembangan yang komplek disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, umumnya dapat terdeteksi sejak anak lahir atau usia balita (di bawah 3 tahun) sehingga menyebabkan anak tidak mampu membentuk hubungan sosial atau mengembangkan komunikasi secara normal. Akibatnya anak terisolasi dari kontak manusia dan asyik dalam dunianya sendiri yang di ekspresikan dalam minat dan perilaku yang terpaku, menetap dan di ulang-ulang.

Sampai saat ini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan Autisme. Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini ternyata autisme pada masa kanak-kanak dapat ditekan dan dikurangi walaupun tidak dapat seratus persen menghilangkan gejalanya. Perkembangan pada ilmu kedokteran juga mendeteksi bahwa terdapat kelainan neurobiologist pada susunan saraf pusat berupa pertumbuhan sel syaraf otak yang tidak sempurna pada beberapa bagian lipatan otak. Gangguan ini terjadi selama masa kehamilan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, (Toksoplasma, CMV, Rubela, Herpes) dan Jamur (Candida) sehingga menghambat pertumbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi, dan interaksi.

Iklan